Menulis Bebas

Sepenggal Perjalanan Menuju Wage

Posted on: June 21, 2012

Finally, terlaksana juga niat jalan- jalan pagi mengunjungi salah satu sudut indah di bumi Beji. Setelah sebelumnya sempat kesini bersama tiga orang kawan beberapa waktu lalu, kesempatan megunjungi Wage datang juga. Perlu diketahui, momentum ini terasa luar biasa karena perlu menentukan hari baik untuk menuju Wage. Bukan apa- apa, hari baik  maksudnya adalah hari dimana teman- teman pada bisa ngumpul. Ini karena koordinator perjalanan kami jarang sekali bisa pulang dari tugas dinas di kampusnya. Bersama grup anak- anak TPA kami melakukan perjalanan pada hari Ahad pagi, 17 Juni 2012.

Jadi, apa sih Wage itu? Dan kenapa kami bersemangat kesana? Wage adalah kependekan dari Watu Gendhong, sebuah tempat dimana terdapat bongkahan- bongkahan batu vulkanik yang cukup besar, terletak di kaki Gunung Gambar dan dikelilingi panorama hijau bukit  Wonosadi. Watu Gendhong berasal dari bahasa Jawa, watu berarti batu sedangkan gendhong berarti membawa sesuatu dengan meletakkannya di punggung. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, datangnya bongkahan- bongkahan batu tersebut berasal dari kera  penunggu Wonosadi yang menggendong batu dan meletakkannya disana. Believe it or not, pada faktanya misteri datangnya batu itu belum terkuak secara ilmiah. Nama Wage sendiri saya copas dari coordinator perjalanan kami, Pak Dika yang suka menyebut dengan sebutan Wage. Memang beliau itu suka sekali ngasih nama baru terhadap sesuatu yang sudah ada namanya. Misalnya saja “Si Gila Krisna” atau “Si GJ Nisaa”. Dan yang diberi nama hanya pasrah saja karena memang sedikit banyak ada kemiripan dengan sebutan itu.

Kenapa batu ini menjadi sesuatu yang menarik? Well, seperti kita ketahui  Gunungkidul terdiri dari rangkaian pegunungan karst. Kalau ditemukan bongkahan besar batu vulkanik, maka darimana datangnya bongkahan- bongkahan batu itu? Memang sih tidak jauh dari sini terdapat gunung api purba Langgeran dan nun jauh di arah utara ada Gunung Merapi. Namun  perlu dipertanyakan juga mengapa hanya di wilayah itu bongkahan batu yang hampir sebesar rumah ditemukan. Menarik juga, batu tersebut tidak lapuk dan tetap utuh dari waktu ke waktu. Ini ada kaitannya juga lho dengan dinamisme yang ada di masyarakat. Meski tidak sepenuhnya benar, tetapi cukup menjelaskan ketika sudut pandang ilmiah tidak bisa menjelaskan.

 
 Wage di Pagi Hari
 
 

Beginilah view pertama begitu memasuki area Wage. Area Wage hanya berjarak beberapa meter dari jalan utama. Perlu sedikit menerobos kebun tebu dan melewati pematang yang lebih mirip jalan setapak. Didukung oleh suasana pagi yang masih berkabut dan background pegunungan, serasa berjalan di Merbabu. Tapi tentu saja di Merbabu tidak ada tanaman tebu-nya. Dan perlu diingat, tidak dianjurkan memakai wedges, high heels dan sejenisnya jika berkunjung kemari. Sandal jepit justru sangat dianjurkan. Waktu yang recommended adalah ketika pagi hari. Selain karena udara yang masih segar, ketika cuaca cerah maka bisa sekalian sunbathing. Saya rasa ini penting bagi para mahasiswa yang selalu terkurung dalam gedung ber-AC, kost yang berdempet- dempet sehingga sinar matahari hanya dimanfaatkan untuk menjemur pakaian saja. Sebagai masyarakat yang tinggal di daerah tropis, sangat tidak bijaksana ketika kita tidak bisa merasakan nikmatnya sinar matahari di negeri sendiri. Bayangkan orang asing dari belahan bumi kutub sana yang rela jauh- jau pergi ke negara tropis hanya untuk berjemur, sedangkan kita yang sudah dikaruniai sinar matahari malah lebih suka berada dalam gedung tertutup rapat ber-AC.

 
 Batu di Area Wage
 
 

Berbagai aktivitas bisa dilakukan disini. Bahkan panjat tebing sekalipun, mungkin. Bagi yang memiliki cukup nyali bisa mencoba memanjat puncak batu tertinggi. Dan perlu hati- hati jika tanpa memakai pengaman karena bisa jadi ketika jatuh tidak langsung ke tanah, tapi mampir dulu di sudut batu yang lain. Sementara teman- teman lain sedang berlomba- lomba menaklukkan ketinggian batu, coordinator perjalanan kami, Pak Dika duduk- duduk di batu yang tidak tinggi- tinggi amat. Saya jadi curiga beliau takut ketinggian.

Aktivitas kami hentikan ketika jam menunjukkan waktu telah mendekati pukul 8.00. melanjutkan perjalanan dengan rute yang berbeda membuat kami mengenal lebih lebih dekat wilayah Beji. Berbagai keunikan masyarakat terbentuk bersama kondisi geografis Beji. Saya memahami beberapa hal yang sering dikatakan sebagai mitos sebenarnya memiliki esensi mendalam yang secara harafiah justru akan mudah diabaikan. Seperti keyakinan tentang larangan menebang pohon besar di suatu sumur, siapa yang melanggar larangan itu maka akan mendapat celaka. Secara sederhana kita  tau apa yang akan terjadi ketika pepohonan dekat sumber air ditebang. Namun masyarakat memiliki pemahaman dengan cara yang berbeda. Yah, sama- sama melindungi namun suatu ketika perlu diluruskan pada makna yang sebenarnya.

Yah, demikianlah dan perjalanan pagi ini usai.  Untuk selanjutnya kami bergegas menyiapkan agenda selanjutnya, nobar Ar Risalah. Sebenarnya pengen sih kembali ke sini lagi sekalian mengunjungi Gunung Gambar, tapi…ya nantilah.

Advertisements

1 Response to "Sepenggal Perjalanan Menuju Wage"

Harusnya bikin nama sendiri, G-Stone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,414 hits
%d bloggers like this: