Menulis Bebas

Kepemimpinan Profetik

Posted on: August 5, 2012

“Setiap kita adalah pemimpin, dan setiap kepemimpinan akan diminta pertanggungjawabannya kelak”.

Al Quran memberikan gambaran yang yang cukup lengkap mengenai rasul yang membawa perubahan, mengubah, menjayakan bangsanya. Al Quran juga menceritakan adanya bangsa bangsa besar yang mengalami keruntuhan. Para rasul dalam merintis suatu perubahan mengalami berbagai hambatan dan tantangan. Maka bagi kita sekarang dalam membawa perubahan harus siap berkonflik dengan siapapun. Itu berarti kita harus memiliki kesiapan dan keberanian untuk berkonflik. Belajar mengenai kepemimpinan profetik tidak hanya dari Nabi Muhammad saja, melainkan dari nabi- nabi pendahulu beliau. Salah satu kisah kepemimpinan yang sangat baik adalah kisah nabi Yusuf. Kepemimpinan profetik mengajarkan bahwa jika kita ingin menjadi besar, maka harus selalu bersama Yang Maha Besar. Hal ini sesuai dengan pengertian kepemimpinan profetik, yaitu kepemimpinan yang membebaskan penghambaan kepada Allah semata.

Kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan yang membawa  misi humanisasi, liberasi, dan transendensi. Misi humanisasi atau ta’muruna bil ma’ruf mengandung makna untuk memanusiakan mausia, mengangkat harjkat manusia, dan menjadikannya bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan. Disini yang sulit adalah dalam hal mencontohkan kebaikan. Misi liberasi atau tanhauna ‘anil munkar yaitu membebaskan manusia dari keterpurukan dan ketertindasan. Sedangkan tu’minina billah atau misi transendensi merupakan manifestasi dari  humanisasi dan liberasi. Disini terkandung makna bahwa kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala sesuatu yang dilakukan. Jika kita bisa konsisten dalam humanisasi dan liberasi maka hidayah itu bisa datang.

Dalam kepemimpinan profetik terdapat beberapa proses tahapan. Yang pertama adalah proses pembacaan. Pembacaan berarti penguasaan informasi berupa konsep, teori, dan paradigma dasar. Selanjutnya, yang kedua yaitu proses penyucian atau purifikasi. Purifikasi mengandung pengertian menetralisir pemikiran, perasan, dan moral dari muatan negative. Proses ketiga yaitu proses pengajaran. Proses pengajaran yaitu penguasaan terhadap epistemology dan metodologi ilmu pengetahuan “sciences” dan kebijaksanaan “wisdom”. Yang keempat yadalah proses penguasaan informasi dan masalah baru.  Hal ini diisyaratkan dalam ungkapan “dan mengajarkan kepadamu apa- apa yang belum pernah kamu ketahui”. Indicator keberhasilan dari kepemimpinan profetik ini adalah ketika telah menyadari peran dan fungsinya sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,414 hits
%d bloggers like this: