Menulis Bebas

Komunikasi, Syarat Bagi Pemimpin

Posted on: August 5, 2012

Ada suatu cerita, tentang seorang pemuda dengan Harley Davidson barunya.  Pemuda tersebut menyalip sebuah mobil di jalan raya sambil berkata peda pengemudi mobil “Hoooi elu udah pernah naik Harley belum?”. Lalu pemuda itu langsung tancap gas meninggalkan pengemudi mobil. Si pengemudi mobil melihat dan berkata “Sombong banget itu orang, baru juga naik Harley”. Lalu dikejarlah pemuda dengan Harley tadi, dan berhasil menyalipnya. Namun, tidak lama kemudian Harley itu berhasil menyalip mobil itu lagi sambil berkata “Hooi, udah pernah naik Harley belum lu?”. Dan pemuda itu pun ngebut lagi dengan Harleynya. Pengemudi mobil pun keki berat karenanya dan mengumpat “ Gua sumpahin tabrakan tuh orang, belagu banget”. Dan benar saja, di perempatan depannya pengendara Herley itu tabrakan dan tertimpa Harleynya sendiri. Setelah tau tabrakan, pengemudi mobil turun dan menghampiri pemuda tersebut. Sambil meringis kesakitan pemuda itu masih berkata “ Elu pernah naik Harley kagak?”. Pengendara mobil menjawab dengan agak sewot “Heh, elu tuh udah tabrakan, ketiban motor, masih sombong, mau lu apaan sih?”. Lalu pengendara Harley itu ngomong “Maksudnya gua mau Tanya kalau udah pernah naik Harley kasih tau gua rem-nya dimana”.

Sepenggal kisah diatas mungkin sudah sering kita dengar. (Silahkan tertawa kalau lucu). Konyolnya pengendara Harley tersebut tidak akan terjadi jika dia menggunakan cara yang lebih baik dalam bertanya ke pengemudi mobil. Komunikasi memegang peranan penting dalam meng-goalkan sebuah tujuan. Komunikasi yang baik memiliki indikator, jika apa yang akan disampaikan itu sesuai dengan yang diterima oleh penerima. Sangat disayangkan jika terdapat figure yang berintegritas, bervisi bagus, namun tidak pandai berkomunikasi. Alhasil, banyak orang yang tidak mengetahui kualitas seseorang sesungguhnya.

Kemampuan komunikasi seseorang perlu diasah sedini mungkin. Pentingnya komunikasi bukan hanya untuk hal- hal sederhana, seperti menanyakan rem Harley Davidson seperti diatas. Dalam skala yang lebih luas, kemampuan komunikasi mencerminkan “kualitas” seseorang. Dalam artian sebatas mana seseorang mampu mencitrakan dirinya. Sebagai contoh, dalam mementukan seorang pemimpin (baca: pilkada). Banyak figure yang berkompeten namun kurang bisa berkomunikasi sehingga masyarakat tidak menyadari mana kandidat terbaik. Akibatnya kandidat yang rajin beriklan, rajin nampang dan rajin mempopulerkan diri yang terpilih.

Harapannya di masa mendatang calon- calon pemimpin pengganti pemimpin saat ini tidak mengulang hal yang sama seperti sekarang. Kemampuan komunikasi sangat diperlukan dalam menggambarkan kualitas seseorang. Misalnya dalam berpidato, 8 detik pertama sangat menentukan bagaimana respon audiens selanjutnya. Mungkin audiens akan tidur, akan melamun, atau akan antusias. Jadi bukan sepenuhnya salah audiens jika dalam forum itu banyak yang mengantuk, karena pembicara lah yang bisa menciptakan suasana.

Komunikasi oral seperti diatas diperlukan dalam hal- hal tertentu. Namun ada yang lebih penting lagi di zaman ini, yaitu komunikasi di media elektronik. Secara oral, suatu komunikasi mungkin dapat menyebarkan informasi  dengan waktu yang diperlukan 100 tahun. Jika melaui media cetak, mungkin memerlukan waktu 25 tahun, namun dengan media elektronik, saat itu juga informasi dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian media elektronik menjadi suatu sarana yang banyak dipakai dan banyak pihak ingin menguasai media elektronik. Semisal stasiun TV tertentu yang dimiliki oleh orang tertentu. Media tersebut dapat digunakan sebagai sarana propaganda yang efektif, sehingga ke netralan suatu program televisi bisa diragukan. Misi- misi terselubung dibalik suatu media juga telah merebak, sehingga jika pemimpin muda saat ini masih banyak yang gaptek, maka dia hanya akan menjadi penonton yang dipermainkan media massa.

Memang banyak sekali SDM Indonesia yang pintar, berintegritas, namun itu saja tidak cukup. Untuk mewujudkan suatu tatanan  peradaban yang lebih baik, diperlukan lebih dari sekedar pintar. Seperti yang dikatakan Pak Tifatul Sembiring bahwa “perjuangan dirancang oleh orang- orang pintar, dijalankan oleh orang- orang ikhlas, dimenangkan oleh orang- orang pemberani”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,414 hits
%d bloggers like this: