Menulis Bebas

Archive for September 2012

Edisi kedua ini merupakan lanjutan dari judul yang sama sebelumnya. Edisi pertama adalah pemanasan awal ekspedisi. Selanjutnya perjalanan berlanjut menyusuri medan yang tidak sama dengan jalanan halus di sekitar kampus.

Dulu kawasan ini benar- benar hijau dan indah. Kini pohon- pohon tak berdaun, hanya tumbuhan- tumbuhan semak dan perdu yang tumbuh. Benar- benar medan yang panas dan melelahkan. Maka kami diberi kesempatan untuk istirahat, masak, makan, dan shalat. kami segera bergabung dengan kelompok pasukan lain yang ditugaskan membeli logistic. Beruntung sekali kami tidak mengabaikan tugas membawa kompor, jadi tidak makan beras dan sayuran mentah. Yang menjadi kendala adalah dari 3 kelompok, satu kelompok tidak membawa kompor, dan di kelompok satunya tidak dapat digunakan. Beruntunglah sebelumnya saya kursus memakai kompor lapangan (tentu ini hal biasa bagi anak mapala, tapi sesuatu banget untuk saya). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ekspedisi tabuk menempuh perjalanan yang sulit. Begitu juga kami. Dengan peralatan dan persediaan air yang sangat kurang, kami membuat makan siang. Benar- benar keahlian akhwat dalam membuat tungku sangat diperlukan. Jadilah menu makan siang kami ini berupa nasi setengah matang, mie goreng,  tempe goreng setengah matang, wortel rebus berbumbu, dan sawi setengah matang. Tentu saja kami tidak ingi mengkonsumsi air sungai yang keruh. Jadi semua makanan tadi tidak dicuci sebelum dimasak. Pada kesempatan ini kami juga menerapkan pelajaran fiqih yang kami dapat. Ketika waktu shalat tiba, kami masih di padang pasir sungai. Jadi lah wudu dengan air sungai. Meski air sungai itu coklat keruh, namun air sungai itu suci dan bisa digunakan untuk berwudu.

Kesalahan fatal kami adalah membuat mie instan. Kami pikir mie instan adalah satu- satunya makanan yang cepat, mudah, dan enak untuk dikonsumsi disaat mendesak seperti ini. Namun hal yang begitu sempurna belum tentu baik. Jadi saya sarankan untuk para akhwat, jangan mengkonsumsi mie instan. Mau jadi apa generasi Indonesia di masa mendatang kalau ibunya konsumen mie instan. Selain itu kami baru bisa merasakan ketika tidak mematuhi instruksi membawa perlengkapan. Ibaratnya perang tentu saja akan menjadi hal yang fatal ketika persiapan kurang. Benar saja, ada kelompok yang tidak membawa peralatan itu berarti mendzalimi anggota lain, karena kerja jadi terhambat.

Sampai di pos berikutnya, kami ditugaskan untuk mencari buku kesayangan yang dikumpulkan sebelum perjalanan. Kami mencari dalam sebuah simulasi jika anggota pasukan kami sebagian buta, sebagian tidak memiliki tangan, sebagian lagi berjalan dengan satu kaki. Pada saat pencarian kami yang tidak memiliki tangan bersama anggota lain yang buta. Karena area pencarian yang begitu luas, maka saya yang mendapat peran tidak memiliki tangan meninggalkan pasangan saya yang buta (diperankan oleh Ratri) agar dia tidak capek jalan apalagi sambil nabrak bebatuan. Ratri mun menyicil hukuman (kami dihukum karena ada anggota yang tidak membawa perlengkapan, masing-masing anggota  50seri bending, 50 seri sit up, 50 seri push up) sehingga hukuman untuk anggota lain bisa berkurang. Evaluasinya adalah, pada saat tertentu kita merasa tidak ingin merepotkan orang lain. Namun itu sebenarnya akan membuat orang itu merasa terabaikan, dan kita pun hanya memikirkan agar bisa kerja cepat tidak merasa terbebani. Ketika hidup bersama, tentu hal seperti ini tidak dibenarkan. Apa yang dilakukan Ratri tadi dengan meringankan hukuman yang lain memang dinilai benar, namun tidak di saat yang tepat. Kita pun sering demikian, melakukan sesuatu yang memang itu baik dan bermanfaat namun di sisi lain tidak tepaty dan mendzalimi orang  lain tanpa disadari.

Selanjutnya di pos terakhir, kami battle dengan panitia. Simulasi kalau saat perang tabuk jadi perang melawan romawi. Kami harus membuat benteng pertahanan agar senjata yang kami miliki tidak jatuh ke pihak musuh. Nah evaluasinya disini adalah, kami berhasil mempertahankan benteng, namun ada senjata yang dicuri. Dahn hal yang lebih penting lagi adalah kami melindungi senjata agar tidak diambil musuh, namun mendudukinya sehingga menjadi rusak semua (tentu saja senjata bohongan dari kayu).  Tahap selanjutnya adalah kami ditugaskan untuk membuat menara manusia agar bisa mengambil jaket yang diletakkan di atas pohon bambu. Tentu saja tidak bisa dipanjat. Disini sangat berguna sekali teman- teman yang dulunya jadi cheerleaders. Apa yang kami lakukan sedikit mengasah sisi  maskulin kami, sebagai akhwat tentu saja harus tangguh. Namun demikian kami tetap memperhatikan sisi keakhwatan kami. Bagi yang selalu memakai rok, kami masih bisa mengikuti petualangan ini, bisa ikut mendaki, dan masih bisa shalat tepat waktu di medan yang tidak senyaman biasanya.

Ekspedisi selesai, upacara penutupan dimulai. Kami membawa kemenangan ini. Dengan berbagai perbedaan kami sebagai peserta pembinaan, kami merasa semakin tahu bagaimana hidup dalam suatu komunitas. Kami tidak harus memiliki pandangan yang sama satu dengan yang lainnya, tapi bagaimana bisa mengembangkan potensi itu untuk mencapai suatu misi.

 

 

 

Advertisements

Masih ingat tentang ekspedisi Tabuk di zaman Rasulullah?

Ekspedisi ini dimulai ketika kaum Muslimin mendapat berita dari para pedagang yang kembali dari negeri Syam bahwa orang-orang Romawi telah menghimpun kekuatan besar dengan dukungan orang-orang Arab Nasrani dari suku Lakham, Judzam dan lainnya yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Jumlah pasukan Romawi saat itu berjumlah 40.000 orang. Yang menarik, ekspedisi ini dilaksanakan  pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyah, di puncak musim panas dan ketika orang-orang menghadapi kehidupan yang sangat sulit. Dan di ekspedisi  ini  pula terlihat mana yang munafik dan mana yang beriman. Orang- orang munafik mangkir dan tidak mengikuti perang. Orang-orang munafik tidak mau menyumbang untuk kepentingan perang sementara Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya untuk mendukung persiapan perang. Tentu saja sangat malu sebagai orang munafik saat itu, karena setelah keberangkatan pasukan ternyata tidak jadi perang. Sesampainya di Tabuk, mereka tidak menemukan pasukan Romawi dan tidak ada perlawanan. Kemudian yang terjadi adalah perjanjian damai antara kedua pihak.

Cerita selanjutnya bisa dibuka dalam sirah nabawiyah. Yang akan saya ceritakan disini adalah pengalaman kami (Peserta Program Pembinaan SDM Strategis Nurul Fikri) dalam memaknai ekspedisi Tabuk. Meski dalam kondisi yang berbeda, setidaknya pada masa kini generasi pemuda memahami kondisi sulit dalam mempertahankan Islam. Khususnya sebagai akhwat, menjadi tangguh itu sangat diperlukan.

Dimulai dari persiapannya saja, ekspedisi Tabuk itu perlu totalitas. Maka kami juga totalitas dalam menyiapkan. Shalat 5 waktu berjamaah tidak boleh bolong- bolong, tilawah 1 juz per hari, shalat malam dan dhuha juga tidak dilewatkan. Persiapan secara materi tentu saja diperlukan untuk menghadapi medan yang berat. Maka ketika diumumkan untuk membawa perlengkapan seperti kompor, matras, raffia, tali pramuka, dll. saya pun menyegerakan mencari. Untung saja ada kakak tingkat yang bisa diandalkan dalam perlengkapan survival, dalam kondisi mendadak pula (terima kasih Mas Dedi untuk matras dan  kursus singkat memakai kompor lapangannya).

Pada hari H pelaksanaan (29/09/12) keesokan harinya, buru- buru habis subuh packing perlengkapan. Sebelum berangkat silaturahim dulu ke rumah Pak RT. Memang tidak ada korelasinya, namun ini adalah salah satu bagian dari penugasan. Nah, selanjutnya berangkatlah kami menuju alamat yang tertulis pada kertas penugasan, masjid Mujahidin di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Singkat cerita, kami sampai di lokasi tanpa ritual nyasar. Lalu setelah apel pembukaan berangkatlah kami memulai ekspedisi dengan tugas masing- masing. Satu kelompok pasukan bertugas observasi, satu kelompok bertugas membeli logistic, satu  kelompok bertugas membayar hukuman dengan tilawah 6 juz, shalat dhuha 16 rakaat, dan kawan2nnya (lupa). Berhubung saya termasuk dalam pasukan observasi, maka kami segera mengikuti petunjuk jalan.

Sampailah kami di Kali Kuning, yang disitu dulunya hijau kini berubah gersang dan sangat panas. Kami melihat ada proyek pembangunan sabo dam. Sabo dam ini berfungsi sebagai penahan lava dan material- materialnya (begitu kata teman saya yang teknik sipil). Tugas kami disini adalah mencari permasalahan dan menemukan solusinya. Ternyata permasalah disini sangat kompleks, maka kami bagi menjadi bidang yang lebih kecil , ekonomi, infrastruktur, social- psikologis, dan ekologi-lingkungan. Karena kami berasal dari disiplin ilmu yang berbeda ( teknik sipil, arsitektur, gizi kesehatan, pertanian, teknologi pertanian, psikologi, teknik elektro), maka kami membuat analisis dan solusi dengan memperhatikan berbagai aspek yang ada. Kondisi yang terjadi dalam pembangunan sabo dam itu adalah para pekerja yang yang tidak mendapat fasilitas yang layak. Mungkin dari sudut pandang tekni sipil proyek seperti itu biasa, namun dari sudut pandang social- psikologis sangat tidak layak .  Pekerja yang mengangkut semen, pralon, dan lainnya ke lokasi pembangunan adalah perempuan. Sedangkan lokasi proyek tersebut tidak memiliki fasilitas untuk hal urgen seperti toilet, tempat shalat, dan tempat istirahat. Selain bukan bagian perempuan untuk bekerja seperti itu, hak- hak pekerja pun kurang memadai. Seperti jaminan keselamatan kerja, lokasi kerja sangat berbahaya. Pasca erupsi, jembatan- jembatan rusak dan pohon- pohon rawan tumbang. Namun sekali lagi kita perlu menggunakan berbagai sudut pandang ketika memandang suatu permasalahan. Tentu saja memberi pekerjaan ini lebih baik karena dengan demikian warga bisa bekerja.

Meski kami sebagai mahasiswa hanya bisa beropini, setidaknya sekembalinya kami nanti dapat membawa sebuah cerita bahwa di suatu tempat di kaki merapi butuh sentuhan untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum erupsi. Mungkin ada yang mau KKN disana, atau mengadakan riset bagaimana mempercepat proses penyuburan tanah di merapi. Meski dikatakan abu letusan gunung Merapi menyuburkan tanah namun membutuhkan proses yang lama hingga sesuai untuk pertanian. Begitu juga harapan para perempuan yang bekerja di proyek itu, mereka menginginkan lahan dan ternak mereka kembali seperti sebelumnya.

To be continued…..

 

 

 

Ini adalah salah satu kegiatan di asrama PPSDMS NF tercinta…menghias toples. Toples- toples bekas kue lebaran di asrama sudah begitu menumpuk, daripada tidak berguna, maka dihiaslah toples- toples itu menjadi toples baru yang lucu- lucu. Dari gambar kucing sampai gangnam style nih dipasang diatasnya. Apalagi yang toples muka beruang, untuk menemani ngerjain laporan, sambil makan tutup toplesnya bisa jadi bantal…..^_^

        

Anda masih berkata bahwa Gunungkidul kering?

Iya memang di beberapa tempat terdapat daerah yang mengalami kekeringan di musim kemarau. Namun sejatinya, Gunungkidul memiliki potensi air yang begitu besar.  Gunungkidul memiliki tujuh sungai bawah tanah, dapat dikatakan Gunungkidul merupakan daratan yang berdiri di  atas aliran sungai. Salah satunya adalah Goa Pindul yang berada di daerah Gunung Kidul, Dusun Gelaran I, Bejiharho, Karangmojo. Goa ini memiliki aliran sungai bawah tanah yang dimanfaatkan sebagai objek wisata.

Teringat akan SMS seorang kakak tingkat yang mengatakan akan ke Karimunjawa saya pengen juga refreshing, namun ternyata hari itu saya harus stand by menyelesaikan key in jadwal kuliah dan praktikum yang ribetnya minta ampun. Jadi lah ke Goa Pindul, yang sama- sama ada airnya (#jauh banget  bedanya). Goa Pindul ini merupakan salah satu objek wisata di desa wisata Bejiharjo. Selain Goa Pindul ada Sungai Oyo yang bisa digunakan untuk rafting dan juga Goa Glatik untuk caving. Nah, paket yang saya ambil adalah paket Cave Tubing Pindul dan Oyo River Tubing.

Cave Tubing Pindul

Untuk menjelajahi Goa Pindul, pengunjung harus menggunakan pelampung dan ban karet. Goa Pindul merupakan goa yang dialiri sungai bawah tanah, sehingga air memenuhi goa dan pelu berenang untuk menyusurinya. Dengar- dengar aktivitas cave tubing ini jarang sekali dimiliki objek wisata, bahkan di dunia karena hanya daerah karst yang memiliki karakteristik goa seperti Pindul.

Kegiatan cave tubing ini tidak memerlukan keahlian khusus. Peralatan yang digunakan hampir sama seperti rafting, dan telah disediakan pihak manajemen wisata. Dalam satu paket, pengunjung mendapatkan fasilitas guide, sepatu, pelampung, ban karet, dan asuransi. Bahkan yang tidak  membawa baju pun bisa menyewa.  Bagi yang pengen tetap terlihat anggun bisa juga pakai rok, tapi tentu saja tetap pakai celana panjang. Goa yang disusuri kira- kira sepanjang 300 meter, dan terbagi menjadi 3 zona yaitu zona terang, zona remang, dan zona gelap abadi. Di zona pertama masih terlihat terang, dan saya mesti bilang “wow!”…stalagtitnya sungguh indah. Ada yang namanya stalagtit tirai, yang uniknya selalu diapit stalagtit berhiaskan kristal. Ada juga stalagtit yang begitu besar dan dinyatakan terbesar ke empat di Indonesia (menurut salah satu sumber). Menuju zona remang, ditemukan banyak kelelawar  (spesies kecil) bergelantungan di langit- langit goa. Bahkan mereka keren sekali bisa membuat lubang- lubang di atap goa dengan gigi- gigi mungil mereka. Bisa dibayangkan bagaimana jika kita menggigit batu kapur kan.

ninechocolates.blogspot.com

Di zona gelap, memang sangat gelap. Disini guide mematikan lampunya, mengajak merenung sejenak. Di kegelapan. Sungguh merasa sangat tak berdaya, dibawah naungan bongkahan batu, diatas aliran air, dalam keadaan gelap gulita. Disinilah pembelajaran, betapa nikmatnya nikmat penglihatan, nikmat ketenangan. Nikmat merasakan keagungan Allah atas rasa aman yang diberikan. Hingga kemudian perjalanan dilanjutkan menuju zona terang kembali. Di bawah goa vertical tepatnya. Disini nampak cahaya, dan bisa berenang- renang. Bisa juga terjun dari dinding goa. Terjun ini sangat recommended untuk dilakukan, bagi saya ibarat membuang semua beban- beban, dibuang ke air. Full main air banget, bahkan niat saya ingin renang baru kesampaian disini.

Oyo River Tubing

antonmahendra.com

Hampir mirip cave tubing, tapi menurut saya agak tidak asik. Karena pas musim kemarau, airnya pun berkurang, jadi arus sungai tidak seberapa. Tantangannya pun tidak ada, paling hanya nyangkut- nyangkut di bebatuan. Akan lebih asik jika berangkatnya ketika musim hujan, saat arusnya cukup deras. Terlepas dari semua itu, menyenangkan juga saat menuju air terjun. Serasa kaya pertapa duduk di bawah air terjun. Karena rutenya cukup panjang, jadi ada jeda bermain- main di air terjun sambil istirahat. Dan ternyata ada tempat terjun yang lebih tinggi. Kalau pernah nonton film Twilight, yah seperti yang dilakukan Sam dan kawan- kawannya, terjun dari tebing yang tinggi ke air. Tapi mungkin tidak cocok bagi yang takut ketinggian.

Perjalanan berikutnya dilanjutkan menggunakan perahu karet. Sambil mendayung diatas sungai yang tenang, terasa seperti melintasi sungai Seine (serasa pernah kesana aja..). Bedanya disini kanan kiri sungai adalah bebatuan yang seakan membentuk lukisan, cantik sekali. Bebatuan ini dilukis oleh alam, jarang- jarang sekali menemukan sungai seperti ini, karena tidak banyak sungai di daerah karst.

Selain dua paket wisata itu, masih ada lagi caving di Goa Glatik. Sekilas tentang caving ini, yaitu menyusuri goa yang panjangnya sekitar 15 m dengan banyak rintangan. Melihat- lihat di galeri foto, menyusuri goa ini garus ekstra hati- hati, sampai jalan jongkok dan tiarap. Mungkin lain kali perlu dicoba. Ada juga paket yang belum dibuka, menyusuri goa bawah tanah. Kata pemandunya sih sekali masuk goa ini harus bisa keluar, atau terjebak selamanya didalam! Seram juga kedengarannya. Ini karena celah goa yang hanya muat satu orang dan tidak bisa untuk memutar badan, jadilah bisa masuk harus bisa keluar.

Bagi yang ingin berlibur, tempat ini recommended sekali. Dengan harga yang murah bisa bermain- main seharian dengan berbagai pilihan paket yang harganya 30- 50 ribu per orang. Aksesnya pun tidak terlalu ribet, kalaupun tidak tahu jalan bisa tanya warga dan langsung diantar (ramahnya Indonesia ^_^). Tapi sebaiknya pakai kendaraan pribadi, baik sepeda, motor, mobil, bus, ataupun truk, semua bisa lewat karena tidak ada angkot disini.

Nah, selesai sudah petualangan dalam sehari. Menuju petualangan berikutnya, ternyata teman- teman berencana ke Lawu dan Karimunjawa, tapi biasanya saya gagal ikut karena urusan kampus. (Help….kapan bisa bebas dari kampus…!?).

Catatan: karena tidak bisa membawa kamera sambil main- main air, maka foto- foto diatas pinjam dari blog sebelah.

Orang- orang besar itu adalah orang yang bisa melihat masa depan melalui kaidah- kaidah sejarah. Maka Allah memerintahkan pada umat islam agar apa ang dilalui menjadi pelajaran untuk masa depan. Hadits Rasulullah: ”Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masakekhalifahan mengikuti manhaj kenabian, selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masaraja-raja yang menggigit selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang memaksakan kehendak dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau terdiam.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 37/361) . Ini adalah gambaran umum perjalanan sejarah umat Islam. Terangkum dalam sabda nabi ini, dan kita hanya bisa menerka kita berada di zaman mana.

Inilah masa perputaran kejayaan, dan dalam belajar sejarah memang zaman itu berputar. Dalam menerjemahkan sejarah, sejarah itu berputar seperti perputaran spiral. Artinya adalah mengalami masa yang sama dengan konteks yang berbeda. Bisa jadi kita merasakan kelamnya masa yang dialami umat Islam, namun harus ada optimisme akan adanya terbit fajar. Kita harus optimis terhadap masa yang dijanjikan Rasulullah. Hanya manusia besar yang bisa menangkap tanda- tanda kebangkitan. Darimana dia bisa memahami itu? Dari sejarah.

Sebagaimana Allah memberikan sebuah kejutan terhadap manusia, ketika terfokus pada datangnya ratu adil/ Al Masih, Allah mendatangkan manusia di tanah Hijaz, di negeri Makkah. Terletak di tengah- tengah 2 peradaban besar, Persia dan Romawi. Kedua peradaban besar itu tidak sekalipun melirik Makkah karena bukan merupakan wilayah yang menjanjikan. Dari sini kita bisa menggali hikmah, benih- benih itu tumbuh di padang tandus. Dalam segi peradaban mayarakat Makkah merupakan masyarakat yang masih polos, tidak dipengaruhi oleh Yunani atau Romawi. Bagaikan gelas kosong yang akan diisi, maka ketika diisi bisa langsung terisi. Bagaikan kertas putih yang belum ditulisi, coretannya pun menjadi lebih indah. Kemudian masyarakat ini merdeka, membangun sebuah peradaban. Belajar dari kaum bani Israil, yang diberikan berbagai nikmat Allah SWT. Namun memiliki kelemahan, yaitu menjadi bangsa yang terjajah oleh Firaun. Sehingga memang benar bahwa Yahudi merupakan bangsa yang terjajah hingga dibebaskan Nabi Musa menuju tanah yang dijanjikan, Yerusalem. Namun mereka memiliki mentalitas budak. Ketika dibawa ke tempat yang baru mereka masih berfikir, ketidaksiapan untuk hidup di tempat yang baru.

Nah, bedanya dengan orang Arab, mereka setelah merdeka tetap memiliki mentalitas merdeka. Sehingga ketika dihadapkan dengan Romawi, mereka memiliki keberanian. Inilah karakter orang Arab, pemberani, menjunjung tinggi kejujuran, gotong royong. Ini akan berpengaruh ke peradaban selanjutnya. Abu Sofyan sekalipun ketika ditanya Heraclius tentang Nabi Muhammad tidak bisa berbohong bahwa Nabi Muhammad adalah orang terbaik. Dalam medan perang tidak pernah gentar. Peradaban pada masa itu dimulai dari peribadatan. Madinah boleh jadi daerah yang subur, begitu pula Thaif. Namun Makkah merupakan daerah yan tangguh, menjadi pusat peribadatan. Disinilah terjadi percampuran budaya dan adat karena banyaknya bangsa yang datang kesitu. Interaksi ini menyebabkan orang Makkah memiliki kecerdasan yang baik. Daerah yang tandus menyebabkan masyarakat Makkah memiliki sifat yang dinamis, sebagai pedagang yang melakukan perjalanan keluar Makkah.
Potensi yang ada pada masyarakat gurun pasir itu semakin tajam setelah datangnya Rasulullah SAW. Hal ini telah tercantum pada Al Quran. Sehingga ketika ingin membangun sebuah peradaban, kembali pada Al Quran. Al Quran telah mengalahkan filsafat Yunani, mengalahkan kebikjakan cina. Al Quran memberikan kejelasan masa depan.

Direkam dalam sejarah, ketika hijrah orang yang menjadi pengikut adalah 1500. Jadi dalam 13 taun mendapat 1500 pengikut. Pada masa Fathul makkah telah menjadi 10.000 orang dan masa haji wada telah mencapai 125.000. ini merupakan jumlah yang besar dengan rentang waktu yang singkat. Sangat luar biasa dalam dakwah Rasulullah. Karakter masyarakat di masa rasulullah adalah masyarakat yang taat. Karakter kedua adalah keimanan yang progressif, artinya sangat cepat dalam perubahan. Kita bisa lihat pada Umar bin Khattab. Beliau datang pada Nabi dengan tujuan untuk membunuh, tapi ketika telah bershahadat maka menjadi pembela Islam yang tangguh. Salah satu factor yang menyebabkan generasi sahabat sangat hebat, yang pertama adalah berpegang pada Al Quran dan ketika meninggalkan kejahiliyahan mereka meninggalakan semuanya, semua masa lau ditinggalkan. Mungkin berbeda sekali dengan kita yang sedikit sedikit berubahnya. Inilah yang dimaksud perubahan progressif sahabat Nabi. Pada masa itu ada pembinaan yang bertahap. Latihan yang bersifat amaliyah. Dan setelah pindah ke Madinah, Rasulullah mengajari bagaimana membangun peradaban. Diawali dengan diplomasi, mengirim surat kepada raja- raja sekitar, hingga berkembang menjadi perdaban.

Ditulis berdasarkan materi dalam kelas “Sejarah Islam”

 

 Cookies…yummy… !

Olahan cassava memang tidak ada habisnya. Bisa dibuat berbagai macam makanan dari yang ringan seperti keripik hingga yang berat, dijadikan nasi. Cookies yang biasanya terbuat dari gandum, kini juga  hadir dengan bahan cassava, atau bahasa kerennya telo. Cookies ini dibuat oleh sekelompok ibu- ibu bernama Kartini Mandiri di Dusun Banaran, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Cookies ini lebih aman dibanding dengan cookies yang berbahan dasar terigu. Bagi para konsumen yang alergi terhadap terigu, atau yang sedang diet, cocok sekali mengkonsumsi Cookiessava sebagai cemilan.

Awalnya Cookiessava ini diprakarsai oleh sekelompok mahasiswa UGM dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pemberdayaan Masyarakat. Diliriklah singkong yang merupakan potensi lokal daerah Gunungkidul menjadi olahan cookies yang lebih modern. Tim PKM ini melatih ibu- ibu membuat cookies dari bahan singkong. Setelah program ini selesai, dikembangkanlah Cookiessava ini menjadi sebuah usaha dalam progam yang didanai dari Hibah MITI, Yayasan Indonesia Madani, dan Ikatan Mahasiswa Masyarakat Madani UGM.

Cookiessava, Berbagai Rasa

Cookiessava merupakan brand dari beraneka ragam cookies dengan bahan baku singkong. Saat ini Cookiessava memiliki variasi cookies antara lain ginger cookies, chocolate cookies, cheese cookies, peanut cookies, cookies tempe, nastar, dan kastengel. Dalam tiap variasi cookies ini menggunakan topping yang berbeda pula. Ada yang menggunakan keju, choco chips, choco crunch, almond slice, dan lain- lain. Semua bahan baku dalam pembuatan cookies ini sangat diperhatikan kesehatan dan kehalalannya. Singkong yang digunakan benar- benar fresh dari kebun dan tidak ada bahan tambahan makanan yang membahayakan seperti pengawet makanan. Namun untuk kedepannya, karena pesanan yang semakin banyak, bahan baku singong diganti dengan tepung mocaf. Tepung  mocaf ini mempunyai fungsi yang hampir sama dengan singkong, bahkan membuat tekstur cookies semakin renyah.

Untuk sekarang ini Cookiessava menggunakan sistem made by order. Namun tersedia juga dalam kemasan toples di Plaza Agromart, Fakultas Peternakan UGM.

Menuju Kartini Mandiri yang Lebih Baik

Produk yang dibuat kelompok Kartini Mandiri untuk kedepannya akan dibuat lebih beragam. Selain untuk konsumsi pribadi, Cookiessava juga disediakan untuk keperluan oleh- oleh, hantaran, dan keperluan lain dalam jumlah besar. Untuk itu perlu diadakan evaluasi secara berkala untuk mengembangkan usaha Cookiessava. Awal September lalu kami dari tim Hibah MITI, Yayasan Indonesia Madani, dan Ikatan Mahasiswa Masyarakat Madani UGM mengadakan silaturahim dekaligus evaluasi terhadap perkembangan Cookiessava. Saat ini kendala yang dihadapi adalah kurangnya sarana produksi.  Pemesanan dengan jumlah besar tidak imbang dengan peralatan produksi yang dimiliki. Selain itu dalam pemasaran juga masih belum optimal, sehingga produksi yang dilakukan belum konstan.

Dengan keterbatasan yang ada, kelompok Kartini Mandiri terus berkomitmen untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Kreativitas dan keterampilan tim Kartini Mandiri terus diasah dengan ikut berbagai training.


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,457 hits