Menulis Bebas

Ekspedisi Tabuk (Versi 2012: TNGM) Bagian 1

Posted on: September 30, 2012

Masih ingat tentang ekspedisi Tabuk di zaman Rasulullah?

Ekspedisi ini dimulai ketika kaum Muslimin mendapat berita dari para pedagang yang kembali dari negeri Syam bahwa orang-orang Romawi telah menghimpun kekuatan besar dengan dukungan orang-orang Arab Nasrani dari suku Lakham, Judzam dan lainnya yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Jumlah pasukan Romawi saat itu berjumlah 40.000 orang. Yang menarik, ekspedisi ini dilaksanakan  pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyah, di puncak musim panas dan ketika orang-orang menghadapi kehidupan yang sangat sulit. Dan di ekspedisi  ini  pula terlihat mana yang munafik dan mana yang beriman. Orang- orang munafik mangkir dan tidak mengikuti perang. Orang-orang munafik tidak mau menyumbang untuk kepentingan perang sementara Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya untuk mendukung persiapan perang. Tentu saja sangat malu sebagai orang munafik saat itu, karena setelah keberangkatan pasukan ternyata tidak jadi perang. Sesampainya di Tabuk, mereka tidak menemukan pasukan Romawi dan tidak ada perlawanan. Kemudian yang terjadi adalah perjanjian damai antara kedua pihak.

Cerita selanjutnya bisa dibuka dalam sirah nabawiyah. Yang akan saya ceritakan disini adalah pengalaman kami (Peserta Program Pembinaan SDM Strategis Nurul Fikri) dalam memaknai ekspedisi Tabuk. Meski dalam kondisi yang berbeda, setidaknya pada masa kini generasi pemuda memahami kondisi sulit dalam mempertahankan Islam. Khususnya sebagai akhwat, menjadi tangguh itu sangat diperlukan.

Dimulai dari persiapannya saja, ekspedisi Tabuk itu perlu totalitas. Maka kami juga totalitas dalam menyiapkan. Shalat 5 waktu berjamaah tidak boleh bolong- bolong, tilawah 1 juz per hari, shalat malam dan dhuha juga tidak dilewatkan. Persiapan secara materi tentu saja diperlukan untuk menghadapi medan yang berat. Maka ketika diumumkan untuk membawa perlengkapan seperti kompor, matras, raffia, tali pramuka, dll. saya pun menyegerakan mencari. Untung saja ada kakak tingkat yang bisa diandalkan dalam perlengkapan survival, dalam kondisi mendadak pula (terima kasih Mas Dedi untuk matras dan  kursus singkat memakai kompor lapangannya).

Pada hari H pelaksanaan (29/09/12) keesokan harinya, buru- buru habis subuh packing perlengkapan. Sebelum berangkat silaturahim dulu ke rumah Pak RT. Memang tidak ada korelasinya, namun ini adalah salah satu bagian dari penugasan. Nah, selanjutnya berangkatlah kami menuju alamat yang tertulis pada kertas penugasan, masjid Mujahidin di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Singkat cerita, kami sampai di lokasi tanpa ritual nyasar. Lalu setelah apel pembukaan berangkatlah kami memulai ekspedisi dengan tugas masing- masing. Satu kelompok pasukan bertugas observasi, satu kelompok bertugas membeli logistic, satu  kelompok bertugas membayar hukuman dengan tilawah 6 juz, shalat dhuha 16 rakaat, dan kawan2nnya (lupa). Berhubung saya termasuk dalam pasukan observasi, maka kami segera mengikuti petunjuk jalan.

Sampailah kami di Kali Kuning, yang disitu dulunya hijau kini berubah gersang dan sangat panas. Kami melihat ada proyek pembangunan sabo dam. Sabo dam ini berfungsi sebagai penahan lava dan material- materialnya (begitu kata teman saya yang teknik sipil). Tugas kami disini adalah mencari permasalahan dan menemukan solusinya. Ternyata permasalah disini sangat kompleks, maka kami bagi menjadi bidang yang lebih kecil , ekonomi, infrastruktur, social- psikologis, dan ekologi-lingkungan. Karena kami berasal dari disiplin ilmu yang berbeda ( teknik sipil, arsitektur, gizi kesehatan, pertanian, teknologi pertanian, psikologi, teknik elektro), maka kami membuat analisis dan solusi dengan memperhatikan berbagai aspek yang ada. Kondisi yang terjadi dalam pembangunan sabo dam itu adalah para pekerja yang yang tidak mendapat fasilitas yang layak. Mungkin dari sudut pandang tekni sipil proyek seperti itu biasa, namun dari sudut pandang social- psikologis sangat tidak layak .  Pekerja yang mengangkut semen, pralon, dan lainnya ke lokasi pembangunan adalah perempuan. Sedangkan lokasi proyek tersebut tidak memiliki fasilitas untuk hal urgen seperti toilet, tempat shalat, dan tempat istirahat. Selain bukan bagian perempuan untuk bekerja seperti itu, hak- hak pekerja pun kurang memadai. Seperti jaminan keselamatan kerja, lokasi kerja sangat berbahaya. Pasca erupsi, jembatan- jembatan rusak dan pohon- pohon rawan tumbang. Namun sekali lagi kita perlu menggunakan berbagai sudut pandang ketika memandang suatu permasalahan. Tentu saja memberi pekerjaan ini lebih baik karena dengan demikian warga bisa bekerja.

Meski kami sebagai mahasiswa hanya bisa beropini, setidaknya sekembalinya kami nanti dapat membawa sebuah cerita bahwa di suatu tempat di kaki merapi butuh sentuhan untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum erupsi. Mungkin ada yang mau KKN disana, atau mengadakan riset bagaimana mempercepat proses penyuburan tanah di merapi. Meski dikatakan abu letusan gunung Merapi menyuburkan tanah namun membutuhkan proses yang lama hingga sesuai untuk pertanian. Begitu juga harapan para perempuan yang bekerja di proyek itu, mereka menginginkan lahan dan ternak mereka kembali seperti sebelumnya.

To be continued…..

 

 

 

Advertisements

1 Response to "Ekspedisi Tabuk (Versi 2012: TNGM) Bagian 1"

Aaaaa….. Merapi. Bikin kepingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,065 hits
%d bloggers like this: