Menulis Bebas

Ekspedisi Tabuk (Versi 2012: TNGM) Bagian 2

Posted on: September 30, 2012

Edisi kedua ini merupakan lanjutan dari judul yang sama sebelumnya. Edisi pertama adalah pemanasan awal ekspedisi. Selanjutnya perjalanan berlanjut menyusuri medan yang tidak sama dengan jalanan halus di sekitar kampus.

Dulu kawasan ini benar- benar hijau dan indah. Kini pohon- pohon tak berdaun, hanya tumbuhan- tumbuhan semak dan perdu yang tumbuh. Benar- benar medan yang panas dan melelahkan. Maka kami diberi kesempatan untuk istirahat, masak, makan, dan shalat. kami segera bergabung dengan kelompok pasukan lain yang ditugaskan membeli logistic. Beruntung sekali kami tidak mengabaikan tugas membawa kompor, jadi tidak makan beras dan sayuran mentah. Yang menjadi kendala adalah dari 3 kelompok, satu kelompok tidak membawa kompor, dan di kelompok satunya tidak dapat digunakan. Beruntunglah sebelumnya saya kursus memakai kompor lapangan (tentu ini hal biasa bagi anak mapala, tapi sesuatu banget untuk saya). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ekspedisi tabuk menempuh perjalanan yang sulit. Begitu juga kami. Dengan peralatan dan persediaan air yang sangat kurang, kami membuat makan siang. Benar- benar keahlian akhwat dalam membuat tungku sangat diperlukan. Jadilah menu makan siang kami ini berupa nasi setengah matang, mie goreng,  tempe goreng setengah matang, wortel rebus berbumbu, dan sawi setengah matang. Tentu saja kami tidak ingi mengkonsumsi air sungai yang keruh. Jadi semua makanan tadi tidak dicuci sebelum dimasak. Pada kesempatan ini kami juga menerapkan pelajaran fiqih yang kami dapat. Ketika waktu shalat tiba, kami masih di padang pasir sungai. Jadi lah wudu dengan air sungai. Meski air sungai itu coklat keruh, namun air sungai itu suci dan bisa digunakan untuk berwudu.

Kesalahan fatal kami adalah membuat mie instan. Kami pikir mie instan adalah satu- satunya makanan yang cepat, mudah, dan enak untuk dikonsumsi disaat mendesak seperti ini. Namun hal yang begitu sempurna belum tentu baik. Jadi saya sarankan untuk para akhwat, jangan mengkonsumsi mie instan. Mau jadi apa generasi Indonesia di masa mendatang kalau ibunya konsumen mie instan. Selain itu kami baru bisa merasakan ketika tidak mematuhi instruksi membawa perlengkapan. Ibaratnya perang tentu saja akan menjadi hal yang fatal ketika persiapan kurang. Benar saja, ada kelompok yang tidak membawa peralatan itu berarti mendzalimi anggota lain, karena kerja jadi terhambat.

Sampai di pos berikutnya, kami ditugaskan untuk mencari buku kesayangan yang dikumpulkan sebelum perjalanan. Kami mencari dalam sebuah simulasi jika anggota pasukan kami sebagian buta, sebagian tidak memiliki tangan, sebagian lagi berjalan dengan satu kaki. Pada saat pencarian kami yang tidak memiliki tangan bersama anggota lain yang buta. Karena area pencarian yang begitu luas, maka saya yang mendapat peran tidak memiliki tangan meninggalkan pasangan saya yang buta (diperankan oleh Ratri) agar dia tidak capek jalan apalagi sambil nabrak bebatuan. Ratri mun menyicil hukuman (kami dihukum karena ada anggota yang tidak membawa perlengkapan, masing-masing anggota  50seri bending, 50 seri sit up, 50 seri push up) sehingga hukuman untuk anggota lain bisa berkurang. Evaluasinya adalah, pada saat tertentu kita merasa tidak ingin merepotkan orang lain. Namun itu sebenarnya akan membuat orang itu merasa terabaikan, dan kita pun hanya memikirkan agar bisa kerja cepat tidak merasa terbebani. Ketika hidup bersama, tentu hal seperti ini tidak dibenarkan. Apa yang dilakukan Ratri tadi dengan meringankan hukuman yang lain memang dinilai benar, namun tidak di saat yang tepat. Kita pun sering demikian, melakukan sesuatu yang memang itu baik dan bermanfaat namun di sisi lain tidak tepaty dan mendzalimi orang  lain tanpa disadari.

Selanjutnya di pos terakhir, kami battle dengan panitia. Simulasi kalau saat perang tabuk jadi perang melawan romawi. Kami harus membuat benteng pertahanan agar senjata yang kami miliki tidak jatuh ke pihak musuh. Nah evaluasinya disini adalah, kami berhasil mempertahankan benteng, namun ada senjata yang dicuri. Dahn hal yang lebih penting lagi adalah kami melindungi senjata agar tidak diambil musuh, namun mendudukinya sehingga menjadi rusak semua (tentu saja senjata bohongan dari kayu).  Tahap selanjutnya adalah kami ditugaskan untuk membuat menara manusia agar bisa mengambil jaket yang diletakkan di atas pohon bambu. Tentu saja tidak bisa dipanjat. Disini sangat berguna sekali teman- teman yang dulunya jadi cheerleaders. Apa yang kami lakukan sedikit mengasah sisi  maskulin kami, sebagai akhwat tentu saja harus tangguh. Namun demikian kami tetap memperhatikan sisi keakhwatan kami. Bagi yang selalu memakai rok, kami masih bisa mengikuti petualangan ini, bisa ikut mendaki, dan masih bisa shalat tepat waktu di medan yang tidak senyaman biasanya.

Ekspedisi selesai, upacara penutupan dimulai. Kami membawa kemenangan ini. Dengan berbagai perbedaan kami sebagai peserta pembinaan, kami merasa semakin tahu bagaimana hidup dalam suatu komunitas. Kami tidak harus memiliki pandangan yang sama satu dengan yang lainnya, tapi bagaimana bisa mengembangkan potensi itu untuk mencapai suatu misi.

 

 

 

Advertisements

1 Response to "Ekspedisi Tabuk (Versi 2012: TNGM) Bagian 2"

assalamu’alikum ukh, saya boleh minta gambar akhwat yg membawa carrier? saya mau minta izin buat sablon, stiker, dll. jazakallah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,577 hits
%d bloggers like this: