Menulis Bebas

Shopaholic or Smartshopper?

Posted on: May 12, 2013

Shopaholic-And-The-Credit-Card-Debt

“Aku kemarin mau beli manset, tapi jadinya beli dua baju dan satu rok”

“Aku rencana nemeni belanja tapi malah beli dua sepatu”

Sebuah curhatan teman tentang kebiasaan dia saat pergi ke tempat perbelanjaan. Dia sendiri merasa bingung dengan dirinya, ketika melihat barang yang eye cathing, pandangannnya tak bisa terlepas dari benda tersebut sampai tangannya memasukkan kedalam keranjang belanjaan. Lalu kemudian ketika pulan bertanya- tanya, “kenapa aku tadi beli ini?”.  Mungkin kejadian serupa pernah terjadi pada diri kita. Ketika memasuki pusat perbelanjaan yang apapun serba ada, kontrol diri untuk tidak menengok pada barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan jadi tak terkendali.

Menurut Oxford Expans, Shopaholic berasal dari kata shop yang artinya belanja dan aholic yang artinya suatu ketergantungan yang disadari maupun tidak. Shopaholic adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan. Secara sederhana, seorang shopaholic akan membeli berbagai barang yang dia sendiri tidak membutuhkan. Pun ketika saya menanyai seorang teman,

“Kamu butuh ya barang- barang sebanyak itu”

“Enggak”

“Kalau nggak butuh kenapa kamu beli?”

“Ya, meski aku nggak butuh tapi ngerasa bahagia aja punya barang itu”

Meski sulit dipahami secara logika, namun demikianlah adanya kondisi seseorang yang suka berbelanja. Meski tidak semua orang (baca: perempuan) demikian, namun kebanyakan memiliki tingkat kecenderungan belanja meski pada taraf yang berbeda. Apalagi jika uang tersedia, wajar saja ketika niat awal membeli sebiji kaos kaki namun sekeluarnya dari perbelanjaan menenteng tas dan sepatu. Berdasarkan kebiasaan teman- teman yang saya amati, beerapa dari mereka mengalami hal yang sama ketika memasuki pusat perbelanjaan- lapar  mata. Hanya saja mereka memiliki kontrol diri yang berbeda, dan hasilnya pun berbeda. Ada yang tak berdaya kemudian memasukkan barang yang dia suka ke dalam keranjang lalu melenggang menuju kasir. Ada juga yang mati- matian perang batin antara iya atau tidak memasukkan barang ke dalam keranjang. Atau telah memasukkan barang ke dalam keranjang, lalu terjadi pergulatan batin selama perjalanan menuju kasir. Setelah mengantri kasir lalu mengembalikan barang ke tempatnya semula.

shop

Mungkin memang sudah dai sononya bahwa perempuan itu suka berbelanja. Sebuah penelitian di Inggris menyatakan 2-10 persen orang dewasa cenderung senang berbelanja. Pada perempuan, kecenderungan ini meningkat 9 kali lebih besar daripada laki- laki. menurut Siregar (2010),  ada tiga faktor yang dapat menjadi menyebabkan seseorang shopaholic, yaitu:

  1. Pengaruh dari dalam diri sendiri. Seorang shopaholic biasanya memiliki kebutuhan emosi yang tidak terpenuhi sehingga merasa kurang percaya diri dan tidak dapat berpikir positif tentang dirinya sendiri sehingga beranggapan bahwa belanja bisa membuat dirinya lebih baik.
  2. Pengaruh dari keluarga. Peran keluarga, khususnya orang tua dapat mempengaruhi kecenderungan seseorang menjadi shopaholic. Orang tua yang membiasakan anaknya menerima uang atau barang-barang secara berlebihan, secara tidak langsung mendidik anaknya menjadi konsumtif dan percaya bahwa materi adalah alat utama untuk menyelesaikan masalah.
  3. Pengaruh dari lingkungan pergaulan. Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Memiliki teman yang hobi berbelanja dapat menimbulkan rasa ingin meniru dan memiliki apa yang dimiliki juga oleh temannya.

Namun demikian, tidak semua perempuan yang banyak berbelanja termasuk kategori shopaholic. Menurut Triwijayanti (2013) Insensitas belanja tentu menentukan apakah kamu seorang shopaholic atau bukan, ini juga didukung alasan mengapa  kamu berbelanja, apakah karena kesepian atau bahkan depresi. Tak jarang pula, seseorang melakukan belanja untuk mendapatkan ‘feel high’ atau perasaan ingin dihargai. Jika kamu berada dalam salah satunya atau seluruhnya, mungkin kamu memang seorang shopaholic.

smartshoper

Tidak ada yang salah dengan seorang  shopaholic, kecuali kamu kemudian seperti Rebecca Bloomwood dalam Confession of A Shopaholic yang harus menerima tagihan sana sini akibat belanja yang tak terkontrol. Pada faktanya shopaholic bisa menjadi smartshopper. Seseorang yang sering berbelanja mengerti bagaimana cara mendapat barang yang bagus, harga yang murah, jadwal diskon, dan sebagainya. Teman saya hafal sekali supermarket ini memberikan diskon pada hari apa untuk barag apa, atau kalau mau cari barang ini yang paling bagus di toko ini. Hanya saja shopaholic perlu mengontrol diri seperti membedakan antara butuh dan ingin atau membuat skala prioritas. Jika perlu seorang shopaholic tidak dibiarkan sendirian belanja. Maka dengan demikian potensi seorang shopaholic dapat dimanfaatkan. Karena kemudian menjadi seorang shopaholic itu adalah pilihan dan menjadi smartshopper itu adalah keharusan.

Referensi:

Siregar, R. (2010, Juni). Shopping Disorders, Majalah Gogirl, hlm. 78.

Dr. Anna Triwijayanti, S.E, M.Si, CPM (A), Universitas Ma Chung dalam workshop Confession of a Smartshopper , PT. Kalimaya Bhaskara, Sabtu 6 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,414 hits
%d bloggers like this: