Menulis Bebas

Archive for September 2013

 

DSCN2435

Saya masih ingat bagaimana langkah- langkah kaki itu terayun ringan. Sementara kami yang baru menjajaki separuh dari area ini tertatih tatih menahan lumpur liat yang menempel di boots kami. Sisa hujan masih meninggalkan tetes air diantara celah bebatuan. Air keruh kemerahan mengisi cekungan tanah liat menjadi genangan. Kami bisa bermain selancar diatas tanah liat ini.

Wajah itu masih dipenuhi antusiasme ketika menjemput kami dengan payungnya. Satu ditangan kanan, terbuka melindungi dari rintik hujan. Satu payung lagi masih terlipat di tangan kiri, tentu saja payung itu tidak muat untuk kami ber empat.
“Bapak tunggu kalian nggak balik- balik. Bapak pikir kalian tersesat.”
“Iya pak, tadi jalan- jalan dulu melihat lahan” kata leader kami.
Wilayah ini memiliki tanah yang luas. Hamparan jati menghijau menyelimuti bukit menghampar di lereng- lereng, tumbuh tegak di tepian jurang. Saya kemudian tersadar, wilayah ini memiliki sumber daya yang kota lain telah habis: tanah. Kami masih mengamati dari ketinggian, bukit tempat kami berdiri. Sisa hujan memendarkan warna sinar matahari yang kemudian mengubah redup mendung menjadi terang. Kami masih berjalan, dengan boots-boots yang belepotan tanah liat basah.
Deretan hijau pohon pinus, aren, tanaman rimpang- rimpangan, buah- buahan, tumbuh bertebaran hampir tanpa ditanam memenuhi tiap jengkal lahan yang kosong. Sepanjang jalan dan sepanjang memandang hijau menjadi dominasi, berakhir dengan bangunan bata bercat terang berderet rapi.
“Selamat sore Pak”.
“Iya, darimana neng?”.
“Dari jalan- jalan Pak”.
“Mampir dulu neng”.
“Tidak Pak, sudah sore”.
Wilayah ini menawarkan keramahan masyarakatnya. Kekayaan alamnya. Potensinya yang sebagian besar belum tersentuh.
Atau memang tidak perlu disentuh?
Seketika saya menyadari. Wilayah ini memiliki segalanya. “Saya bisa menjadi orang kaya jika tinggal disini”. Hanya saja mengapa daerah ini memiliki sebutan tertinggal? Mereka memiliki segala yang daerah lain yang tidak miliki. Hanya satu yang hilang: mimpi. Keterbatasan akses turut membatasi pemikiran mereka. Limpahan Real menjadikan mereka lupa bagaimana mencari Rupiah. Sia- sia kucuran dana pemerintah yang hingga hitungan-M.
Bukan, bukan real atau rupiah yang sebenarnya mereka butuhkan.
(bersambung)

Advertisements

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,457 hits