Menulis Bebas

99 Cahaya di Langit Eropa

Posted on: March 8, 2014

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa)

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Terbit: Juli 2011

Tebal: 392 halaman

Penulis buku 99 cahaya di Langit Eropa Ini adalah putri Amien Rais yang bernama Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga Almahendra. Rangga merupakan partner perjalanan  Hanum selama menjelajah Eropa. Hanum yang lahir dan menempuh pendidikan di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM ini berpetualang di Eropa dan tinggal di Austria untuk menemani sang suami. Rangga yang merupakan  lulusan cumlaude di ITB Bandung dan UGM (S2) ini sedang mengemban amanah beasiswa S3 dari Pemerintah Austria di WU Vienna. Kisah lahirnya buku ini adalah ketika Hanum menjatuhkan harddisk berisi foto- foto perjalanan mereka selama di Eropa. Sedangkan Rangga menanggapinya dengan “sebagian foto- foto itu tak terselamatkan lagi, tapi kita masih bisa menyelamakan kenangan perjalanan kita dalam sebuah buku….”. Maka lhirlah novel “99 Cahaya di Langit Eropa” ini.

Sepintas, buku ini terkesan seperti buku travelling biasa. Kesan pertama pembaca akan berubah ketika membaca prolog yang disampaikan penulis, bahwa perjalanan yang penulis lakukan tidak hanya sekedar menemukan tempat- tempat unik dengan biaya yang murah. Lebih dari itu, penulis memaknai perjalanannya dengan hakikat bahwa perjalanan tersebut harus dapat membawa pelakunya ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus menambah keimanan. Sampai disini pembaca diarahkan untuk menangkap makna isi buku tidak sesederhana  alur cerita perjalanan penulis, tetapi pembaca memerlukan analisis serta independensinya dalam menangkap informasi terutama yang berkaitan dengan sejarah.

Wina, Austria

Berawal dari sebuah coklat, penulis berkenalan dengan seorang muslim Turki yang menjadi tour guide selama berada di Wina. Keyword pada kunjungan penulis di kota ini adalah Kahlenberg, Danube, Restoran Der Wiener Deewan, Istana Schoenburnn, Wien Stadt Museum, dan Vienna Islamic Center. Kahlenberg adalah  sebuah pegunungan di Wina,  bagian kecil dari gugusan Alpen yang mengitari 7 negara Eropa. Dari sini pengunjung bisa menikmati keindahan Wina tanpa pembatas. Danube adalah sungai yang membelah Kota Wina. Di kota ini terdapat sebuah restoran Pakistan dengan konsep unik,  “ All you can eat. Pay as you wish “. Dengan konsep  ilmu ekonomi apapun, konsep makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya sulit untuk dianalisis bagaimana bisa konsep ini bisa bertahan. Namun pada faktanya restoran tersebut masih bertahan selama beberapa tahun. Istana Schoenbrunn merupakan istana tandingan Perancis, Versailles. Wien Stadt Museum atau Museum Wina , menyimpan sejarah tokoh- tokoh besar di masa lampau. Hal yang berkesan pagi penulis adalah pencitraan seorang pejuang Turki Utsmani yang di Austria dijuluki sebagai penjajah. Sedangkan Vienna Islamic Center merupakan masjid yang unik karena lokasinya terletak di tepi Sungai Danube dan ketika musim panas banyak orang yang berpakaian terbuka di sekitar masjid.

Paris, Perancis

Kali ini penulis dipandu oleh seorang mualaf Muslimah Prancis, Marion Latimer, lulusan Studi Islam Abad Pertengahan dari Universitas Sorbornne. Di paris ini terdapat Museum Louvre yang terkenal dengan Mona Lisa-nya. Namun demikian, kali ini penulis memberikan gambaran berbeda dari Louvre dengan mengubah dogma “Louvre is All About Mona Lisa”. Sedangkan hal mengejutkan lainnya adalah adanya lafal “laa illaha illallah”  pada tepian kerudung lukisan Bunda Maria.

Cordoba dan Granada, Spanyol

Cordoba merupakan titik tolak reinassance di Eropa, kota pertama yang dibangun imperium Islam. Penulis mengunjungi The Mosque Cathedral yang berarti masjid atau Mesquita dalam bahasa Spanyol, namun bangunan ini kini telah dialih fungsi menjadi gereja. Sedangkan Granada merupakan tempat dinasti Islam terakhir berada. Granada memiliki keindahan Istana Al Hambra. Setelah berakhirnya takhta Sultan Granada, kekuasaan beralih di tangan Isabella-Ferdinand. Kehidupan beragama Kristen, Yahudi dan Islam di Granada beralih penjadi pembabtisan massal dan agama tunggal Katolik.

Istanbul, Turki

Istanbul terkenal dengan Hagia Sophia-nya, gereja yang diubah menjadi masjid pasca penaklukan Konstantinopel. Turki sendiri masih memiliki beberapa bangunan bersejarah, seperti Istana Topkapi dan Hagia Irene. Istana Topkapi menggambarkan kesederhanaan kehidupan sultan-sultan Turki ditunjukkan dengan bangunan-bangunan asimetris yang tidak lazim dijumpai. Adapun adanya gereja yang masih bertahan seperti sebelum penaklukan adalah karena kebijakan perang Turki Utsmani yang melarang perusakan setelah penaklukan.

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa adalah gabungan dari novel, catatan perjalanan, dan sejarah yang menyatu dalam sebuah alur runtut. Pembaca dapat membaca buku ini dari sudut pandang novel dengan alur yang khas, sebagai catatan perjalanan, atau sebagai penuturan sejarah. Adapun beberapa bagian dari buku ini merupakan pengalaman penulis sendiri dalam melakukan perjalanan ke Eropa, sehingga dapat dikatakan masih terdapat subjektivitas penulis dalam buku ini. Namun demikian, penulis dengan bahasa yang rapi menuliskan nilai- nilai yang dapat menjadi pesan moral bagi pembaca berdasarkan pengalamannya selama di Eropa. Misal, penulis menyampaikan nilai- nilai Islam melalui tokoh Fatma yang menjunjung konsep damai dan teduh dalam syiar Islam. Pesan itu disampaikan dengan senantiasa menebar senyum, menguasai bahasa Inggris dan Jerman, serta jujur dalam berdagang.

Selain bahasa yang lugas dan alur yang mudah dipahami, penulis mengajak pembaca untuk berfikir. Pada bagian- bagian tertentu, penulis meyampaikan fakta sejarah masih terdapat pro dan kontra kebenarannya. Misalkan pada bagian dimana penulis mendapat informasi dari tour guide bahwa Napoleon diduga seorang muslim, disini disebutkan pendapat  pendukung namun juga disebutkan bantahan atas pernyataan itu. Penulis tidak menyediakan catatan kaki, atau referensi pendukung mengenai fragmen- fragmen sejarah yang ditampilkan. Sehingga untuk bagian ini pembaca perlu menganalisis dan mencari informasi dari sumber lain sebagai pembanding.

Poin penting  yang menjadi inti  menurut penulis resensi dalam buku ini adalah pesan yang disampaikan pada halaman 6-7, Hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Makna sebuah perjalanan harus lebih besar dari itu. Perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,414 hits
%d bloggers like this: