Menulis Bebas

Seni dengan Empati : Pertun jukan Teater Margi Wuta

Posted on: March 9, 2014

Panggung Teater Margi Wuta

Panggung Teater Margi Wuta

Pada umumnya pertunjukan seni diperuntukkan bagi mereka yang memiliki indera lengkap untuk menikmati keindahan seni. Baik itu penglihatan, pendengaran, atau perabaan. Terutama sekali untuk teater, seseorang harus bisa melihat pertunjukan diatas panggung. Lalu bagaimana mereka yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan? Lantas apakah teater hanya diperuntukkan bagi mereka yang bisa melihat saja? Untuk pertama kalinya saya menyaksikan, bahwa teater tidak hanya bisa dinikmati bagi orang yang bisa melihat. Asumsi bahwa teater hanya bisa disampaikan secara visual menjadi latar belakang adanya pertunjukan ini. Lebih mengejutkan lagi bahwa penonton berada satu panggung dengan pemain. Hebat bukan ^^

Penonton begitu dekat dengan pemain teater.

Eksplorasi dari seluruh elemen menghasilkan tampilan dan audio yang menarik. Pementasan ini menawar ulang semua konvensi panggung (penyutradaraan, keaktoran, tata artistik) yang disusun berdasar logika umum ke logika khusus untuk orang tuna netra, sebagai pemain dan penonton. Penataan ini berhasil mempertanyakan bagaimana penonton yang hadir dengan kelengkapan indera penglihatan (ber-netra) berempati pada kondisi pemain yang berkebutuhan khusus (tuna netra). Berhubung saya bukan orang yang ahli dalam teater, maka komentar saya untuk teater ini adalah “keren!”. Sudah sejak tahun lalu (17/11/13) pertunjukan ini diadakan, sehingga saya lupa bagaimana detail alur dan nama- nama tokoh. Saya sempat terharu di akhir pertunjukan, yah… karena alur yang diangkat benar- benar kondisi riil kehidupan sehari- hari.

Menceritakan tentang seorang tuna netra Harjito yang baru saja ditinggal pergi istri dan adik iparnya akibat kecelakaan lalu lintas, si tokoh yang juga sang suami mengalami duka yang mendalam dan sering mengigau menyebut nama istrinya. Ditengah duka ini, arwah istri dan adiknya belum bisa meninggalkan dunia, tidak tega meninggalkan Harjito yang sakit- sakitan sepeninggalnya. Lalu, datanglah tetangga sang suami yang berempati, Getir sesama tuna netra untuk menjenguk dan merawat Harjito. Hingga pada akhirnya, Harjito terbangun seolah menyongsong kedatangan istrinya. Mengajaknya bersama. Dalam tidurnya, dalam igauannya, ternyata sang suami merasakan rindu yang sangat hingga ajal menjemputnya. Suratmi, tetangga yang merawat hanya bisa histeris mengetahui Harjito telah meninggal di tempat tidur.

Penonton dibawa masuk ruangan teater dalam kondisi mata tertutup.

Penonton dibawa masuk ruangan teater dalam kondisi mata tertutup.

 Pada awalnya dari pintu utama penonton dibutakan dengan dikondisikan mata tertutup. Sungguh, disini saya merasakan tidak berdayanya saya tanpa penglihatan. Saya tidak tahu apa saja yang ada di dalam ruang dan anya mengikuti arahan panitia. Terbayang, bagaimana bapak tuna netra yang sering membawa keset atau kemoceng berkeliling menjual barang yang ia bawa. Kadang saya melihat satu barangnya jatuh di jalan, dan bapak itu hanya berlalu saja sampai ada yang berbaik hati mengambil dan memberikan kepada si bapak. Terbayang, bagaimana tidak pantasnya egoisme sebagai pengguna jalan, yang memiliki kemampuan normal. Setelah dibutakan, hanya indera peraba dan arahan dari panitia yang mengantarkan penonton ke kursi. Mungkin begitulah, para tuna netra tidak bisa bebas bergerak dan selalu menghargai setiap bentuk yang dapat mereka indera.

Ada dua tahap menyaksikan pertunjukan ini. Tahap pertama dimana semua penonton dibutakan, hanya mengandalkan pendengaran saja. sedangkan tahap kedua peserta yang tadi berada di tahap pertama dibuka matanya kemudian menyaksikan teater seperti pada normalnya dengan mata terbuka.

Suami yang sakit ditidurkan rekannya.

Suami yang sakit ditidurkan rekannya.

Harjito hanya bisa terbaring, sesekali mengigau menyebut “bune..”. dan sesekali terbatuk- batuk. Pada menit- menit pertama ini bisa dirasakan duka dan berkabungnya seorang suami yang ditinggal istrinya. Beruntung ia memiliki rekan sesama tuna netra, Getir  yang dengan sabar menenangkan, mengantarkan makan tiap hari. Pada bagian ini menunjukkan bahwa meski sama- sama tuna netra dan seharusnya Getir pun memiliki pekerjaannya sendiri, masih ada empati dalam dirinya untuk rekannya.

Arwah istri yangbelum tega meninggalkan dunia, mereka sama- sama bersedih.

Arwah istri yangbelum tega meninggalkan dunia, mereka sama- sama bersedih.

Dan ternyata kesedihan tak hanya menjadi milik Harjito. Istrinya yang telah meninggal belum bisa meninggalkan dunia. Setiap hari ia datang menjenguk Harjito. Kesedihan menjadi milik mereka bersama. Pun ketika adik si istri membujuk untuk segera meninggalkan dunia, ia hanya bisa menjawab belum bisa meninggalkan Harjito dalam kondisi dmikian. Hantu adik si istri ini juga usil. Mengganggu pelanggan pijat yang datang. Seolah menjadi petugas pijat, namun ketika Getir memasuki ruang pijat, pelanggan kaget karena katanya telah dipijat. Padahal tidak ada siapapun di ruang itu. Dan keusilannya juga menyembunyikan makanan yang dibawa Getir untuk Harjito.

Sang istri menyongsong kedatanghan suami.

Sang istri menyongsong kedatanghan suami.

Tetiba Harjito bangun, menghampiri istrinya. Dan istri pun menyambut kedatangannya.Awalnya saya mengira Harjito bangun dan bisa merasakan kehadiran istrinya. Namun ternyata tetangganya, Suratmi masuk kamar dengan histeris. Harjito meninggal. Kisah yang sedih menurut saya. Sebenarnya biasa saja, namun penggambaran dalam bentuk audio-visual dapat mendramatisir setiap scene.

Margi Wuta” Theatre Performance

Teater Gardanalla
A Collaborative work between Joned Suryatmoko & Ari Wulu
Kelola’s Arts Grants Recipient 2013 – Innovative Work Category

Day/Date      : Tuesday & Wednesday, November 26-27, 2013
Venue           : Aula Asrama Syantikara Yogyakarta
Address        : Jl. Colombo CT VII No. 1 Samirono
Time              : 4 pm/5 pm/6pm/ 7pm/ 8pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,032 hits
%d bloggers like this: