Menulis Bebas

Perjalanan Dimulai Dari Membuat Passport

Posted on: August 7, 2014

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapatkan mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak akan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memangdang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

(Imam Syafi’i)

 *ini adalah bait-bait yang menginspirasi saya

Tengah Malam, di Asrama

Saya duduk menghadap laptop, beberapa teman asrama melakukan hal yang sama pula dengan saya. Di sini saya membuka web Airasia.com, melihat- lihat harga tiket pesawat. Hati saya berteriak gembira melihat promo yang diberikan Airasia. Tiba- tiba teman tetangga kamar, Ayunda datang.

“Sedang apa mbak?”

“Lihat harga tiket nih”

“Mau pergi kemana?”

“Mau ke Malaysia..”

“Udah punya paspor?”

“Belum bikin Yund…”

“Hah, bikin paspor dulu mbak, lihat- lihat tiketnya nanti aja. Ayo buruan.”

Jika malam itu Ayunda tidak mengajak ngobrol, maka pembuatan passport saya pasti tertunda- tunda. Segera, saat itu juga saya ambil dokumen- dokumen yang diperlukan. Di sebelah saya Uni yang juga ingin sekali melakukan perjalanan, ikut bergegas menyiapkan dokumen. Saya sendiri sudah berkali-kali menyiapkan dokumen dan sudah siap menuju kantor imigrasi. Namun baru kali ini terlaksana. Sedangkan Uni, dia tinggal memperpanjang passportnya saja. Malam itu semua dokumen siap, keesokan harinya kami berencana menuju kantor imigrasi.

Seringkali, dikatakan bahwa untuk program yang dilaksanakan di luar negeri, seleksinya sulit. Aha, memang benar. Namun sesungguhnya seleksi tersulit adalah seleksi terhadap diri sendiri. Sudahkah membuat passport? Saya rasakan sendiri, pembuatan passport saya tertunda sampai satu semester lamanya. Dengan pemikiran bahwa, “ah, kan belum mau ke luar negeri”. Sama juga seperti beberapa teman, “nanti saja kalau sudah pasti mau ke luar negeri”. Membuat passport, adalah salah satu seleksi. Akan selalu ada sebab yang menjadi penunda pembuatan passport. Belum tau caranya, dokumen apa saja yang diperlukan… jika pun sudah tau dokumen apa yang diperlukan, ada lagi sebab menunda, dokumen itu masih dirumah dan belum sempat ambil.

Saya berfikir, sesungguhnya mungkin karena berfikiran “kan belum mau ke luar negeri, ngapain bikin passport sekarang” ini menjadi satu sebab tertundanya perjalanan ke luar negeri. Karena merasa “kan belum”, sehingga excuse untuk menunda lebih besar. Saya berterimakasih sekali pada saudariku, Ayunda.  Karena Yunda yang maksa untuk bikin passport. Dengan itu saya telah mendatangkan sebab, kenapa saya harus membeli tiket, kenapa saya harus menyiapkan perjalanan, dan yang lebih penting lagi kenapa saya harus menyeriusi datang ke konferensi: karena saya telah berusaha membuat passport.

Hanya butuh waktu tiga hari dan 260ribu rupiah, saya sudah bisa membawa passport atas nama Citranurwinda Fitrinurani. Bismillah, ini awal mula kami 6 Srikandi bertekad untuk menghadiri konferensi di Malaysia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,065 hits
%d bloggers like this: