Menulis Bebas

Catatan 11/11

Posted on: November 11, 2014

bi

11-11-2014

Ibu, hari ini telah genap 22 tahun berlalu. 11-11-14, notasi yang tak berubah kecuali dua digit terakhir. Bilangan yang menunjukkan lamanya ibu membersamai setiap jengkal waktuku. Jika ulang tahun menjadi hari yang istimewa, tak lain adalah karena aku bisa mengenang saat bersamamu. Saat aku masih bisa mencium pipi dan memeluk hangat bahumu. Saat aku masih bisa menikmati susu putih hangat sebelum berangkat sekolah dan sebelum tidur.

Kini waktu berlalu bersama deretan angka 11-11 yang terulang berkali- kali. Namun ingatan masa kecilku masih tersimpan bersama album berdebu di lemari kayu itu. 11-11 yang pertama, saat kau menyambut kedatanganku di kehidupan baru. Aku tak tahu masa itu, ibu. Tapi kudengar dari cerita orang dan darimu, bahwa aku terlalu kecil untuk seorang bayi. Cerita mereka, bahkan bantal cukup menjadi tempat tidurku. Dan ketika ibu harus mengerjakan pekerjaan rumah, aku akan nyaman dengan tidur diatas bantal ditemani siaran radio.

Tak banyak yang kutahu bagaimana 11-11 ku yang kedua, yang ketiga atau keempat. Yang aku tau dalam album itu aku menapaki fase demi fase dengan penuh kebahagiaan. Entah di 11-11 yang keberapa, ibu bisa memakaikan jepit rambut bunga pada rambutku yang merah. Entah di 11-11 yang keberapa ibu memakaikanku gaun dan bandana baru. Aku juga bisa melihat gambar diri ketika ibu dan ayah membawaku  bermain di Timezone. Aku ingat ibu, jika kita pergi mengunjungi nenek dan kakek, kita akan pergi ke Plaza, bermain di Timezone. Sebelum pulang, balon dan es krim menjadi benda yang selau ada ditanganku. Saat itu adalah saat yang menyenangkan, terlebih karena aku telah memiliki teman bermain, teman berebut balon, dan teman bertengkar, Rizky.

Untuk 11-11 selanjutnya, tidak sesering ketika ibu bisa mengajakku ke Timezone, makan es krim dan membeli balon. Saat aku dan Rizky sudah mulai fase baru, sekolah. Dan juga Putra telah hadir di keluarga kita.  Sebenarnya aku tak terlalu mengenal apa istimewa tanggal 11-11, yang kuingat hanyalah aku berulang tahun dan saat itu aku mendapati ayah membawakan hadiah atau di kala lain ayah dan ibu membolehkan aku membeli jajan apapun yang aku mau. Ibu, aku mengingatmu protektif sekali terhadap makanan yang aku dan adik makan. Kau tidak membiasakan kami jajan, membeli minuman kemasan atau makanan pabrikan. Namun bukan berarti ibu melarang, karena terkadang ibu pun membelikannya untukku.

Saat Aku tak Bersamamu

Saat itu kupandangi seragam putih abu- abu yang masih basah tergantung di halaman belakan rumah. Baru beberapa saat lalu aku memilikinya. Saat itu aku memandanginya dengan haru dan sendu. Haru karena aku akan memasuki fase baru pendidikanku. Sendu karena saat aku mengenakan seragam itu untuk pertama kalinya, itu berarti aku tak lagi serumah denganmu. Kemudian Sabtu adalah hari yang paling kutunggu. Saat itu aku begitu menghargai hari sabtu. Karena di hari itu aku bisa kembali melihatmu. 11-11 aku lalui dengan cara yang berbeda, karena saat momen itu tiba, saat itu juga kita tidak bisa bersama. Namun tiga kali 11-11 ku, aku selalu mendapati doa yang kau sampaikan untukku. Kali ini 11-11 ku tidak lagi bisa kulewati bersama ibu.

Kembali saat aku menganggalkan putih abu-abu, kau harus melepasku untuk kedua kalinya. Yang kutahu tempat tinggalku adalah ruang kosong 3×3 meter itu. Namun di hari pertama OSPEK sekembalinya dari kampus baruku, aku dapati ruang kosong itu senyaman kamarku. Kau siapkan rak berpintu dan selimut tebal biru tanpa sepengetahuanku. Kejutanmu memang tidak pernah datang di hari 11-11 ku, melainkan disetiap kesempatan tak terduga dalam hidupku. Jauh lebih dari yang sebenarnya bisa kubayangkan tentang apa yang ada dalam benakku tentang ibu.

Sabtu menjadi masih tetap hari terindahku karena saat itu aku bisa melihatmu. Namun seiring berjalannya waktu, aku tak bisa memberi janji di hari Sabtu. Mungkin kau masih sabar menunggu, hingga kita bisa memiliki Sabtu- Sabtu seperti dulu. Pun kau sampaikan protesmu saat datang teman kerumah kala itu. Tapi tentu, tanpa kehadiran sekalipun rindu akan membiarkan hati- hati kita tetap berpeluk haru, ibu.

Semoga Allah memberikan kesempatan hingga aku bisa melewati 11-11 selanjutnya bersama ibu, memberikan kesempatan doa- doamu terlantun untukku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,414 hits
%d bloggers like this: