Menulis Bebas

Muslimah Bermakeup

Posted on: December 11, 2014

Ceritanya pada suatu sore di basecamp KUJ sedang menunggu partner yang mengisi acara pengelolaan sampah di Godean, sebut saja namanya Aqila. Sambil menunggu dia datang, sambil membuat rencana keuangan pribadi sebulan ini, bulan Desember. Tak lama Aqila datang, seperti biasa, diawali salam khas “hai- gimana kabar?” Habis itu ngobrol, entah bagaimana dari topik keuangan jadi meruncing menjadi topik kemuslimahan.

Iya muslimah. Masih saja ada persepsi yang memisahkan antara muslimah dengan wanita. Hei, sebenarnya sama aja kan? Bedanya hanyalah selembar jilbab yang dipakai. Jadi baik-buruk akhlak dan kepribadian nggak ada sangkut pautnya dengan jilbab. Tapi ya, seringkali di masyarakat dan komunitas yang kurang open minded, masih saja wanita berjilbab menjadi center of attention. Kalau Aqila bilang, “kita ini nggak cantik aja udah jadi artis”. Tadinya bingung sih apa maksudnya, tapi dia lanjut, ya kostum dengan jilbab lebar ini yang sering jadi perhatian, jadi bahan pembicaraan.

Benar juga sih. Jadi teringat film 99 Cahaya di Langit Eropa, tokoh Fatma, dia hati- hati sekali mencitrakan dirinya sebagai seorang muslimah yang tinggal di Eropa. Penampilannya, sikapnya, perilakunya. Semua itu demi menunjukkan representasi Islam yang sesungguhnya. Sama juga dalam kehidupan nyata. Representasi Islam oleh seorang muslimah ditunjukkan dari apa yang banyak orang bisa lihat dan rasakan. Maka Aqila dan aku sepakat sekali ketika seorang muslimah itu harus menjadi sebagaimana seharusnya. Jangan jadi muslimah nyebelin, begitu kalau mbak Asma Nadia bilang di bukunya.

Mulai dari penampilan. FYI, Aqila memiliki usaha rias. Dia bilang itu adalah hobinya. Dia menekuni bidang rias karena suka melihat sesuatu yang cantik dan indah. Tapi ada yang lebih penting dari sekedar suka atau hobi, dia melakukannya karena niat untuk mengenalkan penampilan yang syar’i. Terutama di kalangan muslimah macam mahasiswi. Mahasiswi yang mungkin sibuk luar biasa dengan urusan kampus, kadang lupa bahwa diatas kepalanya sudah ada label “muslimah”, yang artinya segala macam perilakunya adalah representasi Islam. Kebayang dong apa yang orang pikirkan tentang Islam ketika bersanding dengan mbak- mbak berjilbab dengan baju kumal, bau keringat, atau penampilannya seperti jemuran berjalan?

Belum menjadi masalah ketika di lingkungan kampus yang orang- orang sudah kenal. Sudah paham. Tapi untuk kegiatan keluar, misal seperti kami yang sering melakukan kegiatan sosial ke masyarakat desa yang masih belum biasa melihat muslimah dengan jilbab lebar yang dipakai sepanjang hari sepanjang waktu, jangan sampai dianggap alien nyasar lalu diusir. Terdengar berlebihan sih, tapi terjadi juga lho. Mbak- mbak berjilbab yang lagi KKN, nggak mau berinteraksi dengan masyarakat karena niat “menjaga diri”nya. Alhasil, dengan tampilan berbeda dari masyarakat setempat ditambah komunikasi yang kurang baik, si mbak- mbak ini bukannya menjadi solusi bagi masyarakat di program KKN nya, malah menjadi masalah baru di masyarakat dan tim nya.

Muslimah yang kesehariannya sudah kece badai pun, bisa berubah karena dua peristiwa. Sering kan melihat muslimah yang pakaian dan penampilannya syar’i, tetiba berubah pada suatu hari. Iya, hari itu adalah hari wisudanya dan hari pernikahannya. Sering sekali acara wisuda menjadi excuse untuk melilit-lilitkan jilbab di leher tak menutupi dada, make up tebal, dan yang lebih ajaib: menjamak shalat! Tanpa menunjuk pada siapapun, cobalah amati jika hari wisuda. Mbak-mbak yang cantik- cantik itu beberapa diantaranya enggan berwudlu karena akan repot membenahi riasan make upnya. “Trus, shalatnya bagaimana?”, waktu itu aku berani tanya karena teman akrab. “Dijamak”. Seketika ingin garuk- garuk tembok sampai bolong.

Peristiwa kedua adalah saat pernikahan. “Mau gimana lagi, rias yang disewa kostumnya seperti itu”. Sebenarnya nggak berani berkomentar banyak, karena belum pernah merasakan menikah. Perias itu punya defaultnya sendiri. Perias menunjukkan karyanya ya di acara itu, sudah dengan konsep yang disiapkan, wajar jika kadang perias nggak suka kalau mendadak minta perubahan ini itu. Maka, jika tidak mau tabarruj lebih baik cari perias yang ngertiin kemauan seperti ini. Meminta perubahan seperti mau kita secara mendadak, menjadikan riasan tidak sempurna. Karena itu, sering terjadi pengantin perempuan yang di kesehariannya cantik jelita, tapi karena make up yang tidak sempurna malah kelihatan pucat, kelihatan tua, atau lebih parah: aneh.

Nah, ngerti kan kalau memakai jilbab itu secara otomatis akan ada label muslimah sebagai representasi Islam melekat….maka buat diri sebagaimana muslimah seharusnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,065 hits
%d bloggers like this: