Menulis Bebas

Merah Saga di Ujung Cakrawala

Posted on: November 8, 2015

Senja, pada suatu ketika.

Matahari senja 6.10.15 antara Magelang- Yogyakarta

Perjalanan ini bukan lagi tentang 60 kilometer yang membuat jemu. Perjalanan ini tempatku belajar bahasa yang alam berikan untuk menyampaikan pesan. Senja bukan lagi tentang lelah selepas kerja. Atau kecewa karena tak bisa menikmati secangkir teh di beranda sambil bercengkerama. Senja mengiringiku pulang sebagaimana ia mengantarkan merah saga kembali hingga ujung cakrawala. Kini aku tidak sendiri. Memperhatikan bagaimana alam berbahasa. Dan kami bercakap mesra. Senja ini mengajarkanku untuk untuk purna dengan sempurna.

***

Tersampaikan pesan dari hati yang pernah kecewa*.

A: yang kecewa bagian mana?

B: hati.

A: hati itu milik siapa?

B: milikku.

A: mengapa kamu izinkan untuk kecewa?

B: (diam)

***

Teredam  sejenak kecewa

***

Aku tau Dia sedang mengingatkanku bahwa aku salah jika merasa sendiri. Memberiku perasaan tenteram bersama matahari terbenam. Ufuk jauh hingga batas pandangan, semburat jingga, dan bola merah saga menyala diantara dua biru. Biru kanvas langit dan biru bersepuh emas milik barisan gunung yang tersapu cahaya matahari senja. Angin berbisik pada deretan padi yang menguning, gemerisiknya adalah nyanyian penenteram jiwa. Berkicaulah burung menuju sarangnya, membawa bahagia sepulang bekerja. Melambailah dedaunan, mengucap selamat jalan pada duka. Angin yang sejuk membuat hati berhenti merajuk.

Kepekaan jiwa, akan mampu membekaskan hikmah dari pemandangan senja. Mampu mengingatkan syukur, mampu mengingatkan kecilnya diri diantara mahakaryaNya. Mampu meredamkan kecewa, mampu menghalau jemu. Mampu mengingatkan adanya harapan. Mampu menangkap pesan bahwa senja hanya ingin menemani pulang.

***

Aku takjub pada senja yang dikirimNya. Merah saga membulat di ujung cakrawala. Merahnya adalah sindiran halus untuk terus menyala hingga purna. Kelok jalan diantara hamparan padi menguning, diapit gemericik jernih air mengalir adalah isyarat damai senantiasa menemani disaat  masih mau melangkah dengan gagah. Ya Tuhan kami, sekali- kali tidaklah engkau jadikan semua ini dengan sia- sia!**. Kulupakan kecewa, kubangun lagi asa.

***

Kulanjutkan perjalanan, 20 km tersisa.

*Dikutip penuh pesan pendek dari seorang kawan

**Q.S. Ali Imran (3): 191

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,065 hits
%d bloggers like this: