Menulis Bebas

Psikologi Perempuan dan Zakat Mal

Posted on: November 8, 2015

Memasuki musim penghujan di awal November. Mendung seharian, terkadang gerimis. Weekend memutuskan untuk stay di rumah kedua, di kejora. Baca novel kriuk-kriuk buat bersantai. Cuma bertiga dirumah. Sementara yang satu menyendiri belajar IELTS di kamarnya, aku asyik baca novel sambil makan penne berbumbu alakadarnya akibat mager: mendung- mendung, dingin tapi belum sarapan. Lalu datanglah miss R ke kamarku.

“Winda, boleh nyicip pastanya nggak?”

“Boleh, ambil aja nih sendoknya”, kami biasa berbagi sendok.

Krauk krauk….mungkin dia lagi ngunyah bawang bombay yang sengaja kutumis setengah matang. Dan akupun masih fokus dengan novelku.

“Winda gimana ya nanti di akhirat ada pasta nggak….bla..bla…bla…”

“Hmm….”masih fokus ke novel.

“Winda jadi nanti kalau jadi istri harus pinter masak….bla…bla…bla…”

“…….” aku masih diam baca novel dan Miss R sedang mengoceh hal- hal yang random. Sampai akhirnya dia merasa tidak diperhatikan.

“Ih Winda nyuekin aku…”

“Hah? Kenapa? Aku nggak nyuekin kamu…”

“Nggak, pokoknya kamu nyuekin aku”, dan dia pun ngeloyor kembali ke kamarnya.

“Yahh…ngambek”

Aku lanjutkan novelku sambil menghabiskan semangkuk penne. Sambil ketawa- ketawa dan menyendok penne, aku dengar Miss R memanggilku,

“Baca novel disini aja sih”, dia mengajakku pindah ke kamarnya.

“Iya…”, aku pun beranjak menuju kamarnya.

Tetap menggenggam novel, aku mengambil posisi bersandar di bantal dan tembok. Kupikir lebih enak baca novel kalau ada temannya. And again dong…

“Aku kok jadi ngebayangin ya Demi Lovato berjilbab” kata Miss R.

Berkaca dari kejadian barusan, aku harus menemukan sepatah dua patah kata untuk menimpalinya atau bakalan ngambek kayak tadi. Tapi aku bingung, terus aku musti bilang gimana? Enggak penting gitu loh, toh itu adalah angan- angannya doang. Jadi karena aku ga nemuin kalimat untuk merespon, jadi aku balik bertanya.

“Kamu ngapain sih ngobrolin hal random  kayak gitu?”, kataku.

“Yaudah sih biarin kayak kamu nggak ngerti aku gimana”

“Iya tapi aku jadi susah ngresponnya”

“Kamu kan bisa bilang iya atau oh iya ya….gitu”

#gubrak!

#helpme!

Dan kita ngakak bareng.

“Makasih ya kamu udah ngasih aku petunjuk saat saat kamu cerita random gitu aku jadi ngerti harus respon gimana”, dan aku masih menahan geli. Dasar anak bungsu.

Pelajaran pertama obrolan siang ini. Mungkin kayak gitu psikologi cewek. Sedari pagi dia ngomongin hal- hal random yang aku ga ngerti mau respon gimana. Dan dia juga tau bahwa dia ngomong random kayak gitu, yang mungkin dia ngerti juga bahwa agak ga pas momennya. Bayangin lagi enak- enak makan pasta tetiba nanya ada pasta nggak di akhirat nanti. Omigat, bahkan dia sendiri tau jawabannya. Sebuah pertanyaan retoris. Dan itu terulang dengan Demi Lovato berjilbab disaat lagi asyik baca- baca kitab fiqih. Begitulah….yaudah sih di dengerin aja. Yang penting di iya- iyain, biar tetep ada respon. Aku tau dia cuma  pengen cerita, pengen didengerin ceritanya, serandom apapun itu.

Menit- menit selanjutnya aku lebih ngedengerin cerita dia. Dan kali ini ceritanya memang penting. Jadi aku tutup novelku dulu saat dia cerita, dan menoleh, menjawab kalau dia nanya. Tapi kali ini obrolan kami lebih bermakna. Tentang zakat mal.

“Wind, orangtuamu kalau zakat mal bilang kalau diniatkan zakat mal nggak?”

“Oh…nggak tau ya. PNS gitu ga sekalian zakat mal ya?”

“Ya nggak lah, kan nggak semua PNS muslim. Aku nggak tau nih orangtuaku gimana. Kalau zakat fitrah kan jelas bilang zakat fitrah ya. Aku pernah nanya ke ibu. Panennya berapa, terus zakatnya berapa. Katanya ya yang disedekahkan ke tetangga itu. Tapi aku nggak tau jumlah pastinya. Duh gimana nih kalau di akhirat ditanyain kok nggak ngasih tau orangtua buat zakat”, katanya. Biasa, dengan muka kayak mau mewek.

“Yaudah sih tanyain dulu aja tentang fiqih zakat”

Dan selanjutnya…dan selanjutnya. Ya akhirnya beberapa saat kemudian senyap. Wiih…dia tidur. Dan aku masih meneruskan novel yang belum selesai. Tapi aku sambil kepikiran. Tentang zakat mal, pelajaran kedua siang ini setelah pelajaran psikologi cewek. Selama ini juga aku belum menanyakan apakah orangtuaku meneluarkan zakatnya. Zakat mal agak kurang populer dibanding zakat fitrah. Bahkan tidak semua orang tahu fiqihnya. Sejujurnya aku juga kurang tahu sih, begitu juga Miss R. Masih bingung, antara sedekah dengan zakat mal. Baiklah, akhirnya kami menyadari bahwa harus segera belajar tentang zakat ini. Orang- orang berharta diluar sana, yang kaya sampai tumpah- tumpah semoga nggak lupa zakat mal nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,032 hits
%d bloggers like this: