Menulis Bebas

Teh, Hujan, dan Bandara

Posted on: November 8, 2015

2014-11-24 20.03.29

Ini adalah teh terakhir yang kita minum sebelum penerbanganmu ke Kalimantan. Di bandara, kita minum teh ini bersama sambil bercengkerama menunggu keberangkatan pesawatmu. Apakah kau tau, aku menganggap pertemuan denganmu malam itu adalah kejaiban buatku. Mungkin itu kesempatan terakhir aku melihatmu, karena bisa jadi kau tak akan kembali.

Pukul tujuh keberangkatanmu. Sedangkan aku masih melaksanakan tugasku mengajar di jarak 20 km dari bandara tempatmu berada. Aku resah kalau- kalau tak bisa melihatmu. Aku semakin resah saat aku baru beranjak pukul setengah tujuh. Kutelpon kamu, meminta maaf dengan sangat. Seharusnya aku menyertai keberangkatanmu. Namun ternyata hari itu bersamaan dengan jadwal mengajarku. Kamu berpamitan. Aku bersedih. Tak peduli kamu berangkat jam berapa, aku ingin menyusulmu. Meski hanya sekedar melihat sekelebat bayanganmu, atau hanya melihat bekas telapak kakimu.

Aku perlu setidaknya 20 menit untuk menuju bandara, di tengah hujan lebat begini aku perlu tambahan 10-15 menit. Aku tau waktu takkan cukup mengantar sampai pada perjumpaan akhir kita. Tak ada jabat tangan dan lambaian untuk dikenang. Mungkin ingatanmu tentangku adalah orang yang egois. Maafkan. Sepanjang jalan bersama derasnya hujan, menggigil kedinginan, aku memohon dan meminta untuk bertemu denganmu sebelum kamu pergi. Meski tidak mungkin pesawatmu kembali. Tapi aku tak peduli, aku masih mengharap keajaiban bisa bertemu denganmu. Sesampainya di bandara, 19.20 di jam ku. Pesawatmu telah berangkat mungkin 10 menit yang lalu. Aku sedih. Kita berpisah tanpa lambaian selamat jalan. Sampai kulihat namamu bersama dering telepon di hp ku. Iya, kamu menelponku mengabarkan delay pesawatmu hingga pukul duapuluh satu. Doaku terkabul.

Kamu kembali ke ruang tunggu. Dan kita saling memeluk. Aku tak peduli baju basahku membasahi bajumu, dan kaupun maklum dengan rasa bersalahku. Dan kita saling bercerita, sambil minum teh bersama. Aku lega, kita sama- sama lega. Bukan karena apa- apa, pertemuan kita sebelum berpisah ini merupakan empati karena kita sahabat. Karena kita bisa sama- sama tersenyum, sebelum nanti entah kapan bisa kita bertukar senyum. Kita sama- sama geli karena teh panas teman bicara kita tak segera hangat. Sampai pesawatmu diumumkan akan segera berangkat, teh kita masih panas dan belum terminum. Kau bungkus teh mu, dan kita berpeluk erat sambil berucap doa semoga bisa bertemu kembali dalam kondisi yang lebih baik.

24.11.2014

24.11.2014

Selamat menempuh hidup dengan pasangan baru sahabatku, Dewi Kurniyawati.

Yogyakarta, 24.11.2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,032 hits
%d bloggers like this: