Menulis Bebas

Berhenti Berperasangka

Posted on: December 22, 2015

“Sekarang ini sulit mau mentukan mana orang kaya mana yang bukan”, demikian curhat salah seorang kepala dusun saat kami berkunjung kerumah beliau dikala tugas sebagai pendamping swasembada pangan.

Saat itu beliau berkata dalam konteks menentukan warga yang berhak mendapat bantuan pemerintah. Tentunya warga yang kaya tidak memenuhi kriteria perlu dibantu. Namun persoalan menentukan kaya tidak seseorang bukan perkara yang mudah, pun juga sebaliknya, menentukan yang berkekurangan bukan berarti ketika kepemilikannya tidak sebagus atau sebanyak pandangan umum. Terkadang kekayaan ditentukan dengan kepemilikan rumah dan segala perlengkapannya, kendaraan, perabotan. Rumah gubug berdinding bambu mungkin penghuninya dianggap berkekurangan, namun siapa sangka ternnyata kepemilikan lahannya sangat luas sebagai petani pemilik lahan. Di sebelahnya, tetangga dengan rumah berdinding bata terlihat megah dibanding rumah bambu. Namun hidupnya menanggung tak hanya keluarganya sendiri, lahan tak punya karena sebagai pekerja. Rumah megahnya adalah peninggalan orangtua.

Di lain kesempatan sewaktu saya tinggal di Asrama Barbie Dorm, tempat sampah asrama kami menggunung tumpukan sampah. Ternyata bapak petugas kebersoihan telah beberapa hari tidak datang. Kami resah, selain karena tumpukan sampah yang harus mulai dibakar karena tak punya tempat pembuangan, kami bertanya- tanya ada apa dengan bapak petugas sehingga tidak bisa mengambil sampah seperti biasanya? Salah satu teman mencari informasi alamat bapak petugas dan mengunjunginya. Dirumah beliau, diberitahu bahwa bapak itu  bukan petugas yang biasa mengambil sampah, melainkan bos petugas pengambil sampah yang memiliki banyak karyawan pengambil sampah. Sementara beliau bekerja menjadi petugas parkir.

Di lain waktu, bensin saya hampir habis sementara perjalanan menuju kampus masih beberapa ratus meter lagi. Beruntung saya lihat kios kecil yang menjual bensin eceran. Kios yang benar- benar kecil, dengan barang yang dijual hanya air mineral, rokok, permen, dan beberapa barang lainnya. Saya sempat berpikir, bapak penjual yang sudah sepuh itu kenapa tidak istirahat saja. Bapak penjual bensin itu dengan ramah menyapa, menanyakan “Gunungkidule pundi mbak?” hanya dari melihat plat AB-TD saya. Dari yang hanya mau beli bensin seliter, kami jadi ngobrol banyak. Lebih tepatnya bapak itu yang cerita. Tentang sukses anak- anaknya, tentang usaha kos- kosannya di beberapa tempat. Ohhh… jadi….? Bapak itru berasal dari daerah yang sama dengan saya, namun pindah ke Jogja dan menetap di Sleman bersama istri dan anak- anaknya. Kios kecil yang ditunggui tiap hari ini bukan karena kebutuhan ekonomi, melainkan karena kebutuhan bekerja. Butuh kerja, bukan butuh uang.

Saya sering merasa bersalah karena kadang menjudge orang lain karena penampilannya saja. Bapak petugas parkir yang perpanas- panas, mengumpulkan uang seribuan itu bukan karena uang seribunya. Karena duduk dirumah pun sudah punya uang dari usaha sampahnya. Bapak dengan kios kecil itu juga. Dari usaha kos- kosannya sudah cukup untuk kebutuhan masa tuanya. Namun beliau tetap bekerja, karena butuh bekerja. Rasa iba saya justru berubah menjadi rasa malu untuk saya sendiri, karena sayalah yang seharusnya diberi rasa iba atas ketidakmampuan melihat lebih jauh, dan seringkali memandang dari yang nampak- nampak saja. Sejak saat itu saya tidak lagi berani berperasangka. Seorang kawan pernah mengatakan, jika ingin membantu ya membantu saja, karena memang butuh membantu. Bukan mereka yang butuh bantuan.

Saya jadi ingat seorang teman yang nangis- nangis melihat bapak penjual dawet yang dawetnya belum laku. “Kasihan bapaknya, dawetnya masih banyak ga ada yang beli”, maka teman saya membeli dawet itu meski hanya sebungkus dan menangis sesenggukan saat sampai dirumah. Setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian kami mengobrol tentang percaya bahwa Allah lah pemberi rizki, Allah yang Maha Adil, ketidakpantasan mengasihani perjuangan seseorang. Untuk tidak lebay nangis atau merasa iba karena pekerjaan seseorang. Jika ingin membantu ya membantu saja. Bisa jadi doa mereka lebih didengar, bisa jadi rizki mereka lebih berkah, bisa jadi kehidupan mereka lebih bahagia. Maka sesungguhnya saya dan teman saya itu yang perlu belajar dari mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,024 hits
%d bloggers like this: