Menulis Bebas

Archive for August 2017

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” 22:46

***

Read the rest of this entry »

Advertisements

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa
mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,
kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka
jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini
selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,
menguasai perasaan kami,
memeras habis air mata kami,
dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati kami menyaksikan bencana
yang mencabik-cabik bangsa ini,
sementara kita hanya menyerah pada kehinaan
dan pasrah oleh keputusasaan.

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa
kami membawa misi yang bersih dan suci,
bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia,
dan bersih dari hawa nafsu.

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia,
tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,
tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.

Yang kami harap adalah
terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
serta kebaikan dari Allah – Pencipta Alam semesta

*******

Kami sampai hafal kata per kata. Ruh dalam “Idealisme Kami” yang menjadikan semangat kami menjalani pembinaan selama di asrama PPSDMS Nurul Fikri. Pun hingga sekarang saat sudah menjadi alumni.

“…..dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami……” Kalau diingat- ingat saat pembinaan, ini adalah kalimat yang ampuh membangunkan saat kelas malam atau kelas pagi. Yang biasanya tidur jam 2 jam 3 pagi karena laporan praktikum dan tugas kuliah, sehingga paginya ba’da subuh mata ngantuk berat…. lalu teringat idealisme kami. Jadi nggak ngantuk? Ya tetep ngantuk sih ^^ Tapi bukan itu poinnya. Setidaknya ada usaha- usaha untuk tetap membuat mata terbuka. Pun di kelas, meski sudah duduk di baris pertama tepat di depan dosen, tetep ngantuk…dan tidur. Salah? Nggak. Ngantuk itu manusiawi apalagi begadang malamnya. Salah tidaknya tergantung sikap menanggapinya. Mau menikmati proses ngantuk lalu menyandarkan diri dan tertidur atau berupaya bangun dengan berbagai cara, nah disitu ruang pilihan yang tersedia. No excuse. Dan itu menjadi pengingat saya sampai sekarang ketika menemukan dinamika- dinamika di lingkungan kerja yang baru dengan tantangan yang berbeda. Baca- baca lagi Idealisme Kami. Malu kalau harus tumbang atau baper ditengah himpitan dan hingar bingar kehidupan dunia.


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 17 other followers

Categories

Blog Stats

  • 12,246 hits