Menulis Bebas

“Sekarang ini sulit mau mentukan mana orang kaya mana yang bukan”, demikian curhat salah seorang kepala dusun saat kami berkunjung kerumah beliau dikala tugas sebagai pendamping swasembada pangan.

Saat itu beliau berkata dalam konteks menentukan warga yang berhak mendapat bantuan pemerintah. Tentunya warga yang kaya tidak memenuhi kriteria perlu dibantu. Namun persoalan menentukan kaya tidak seseorang bukan perkara yang mudah, pun juga sebaliknya, menentukan yang berkekurangan bukan berarti ketika kepemilikannya tidak sebagus atau sebanyak pandangan umum. Terkadang kekayaan ditentukan dengan kepemilikan rumah dan segala perlengkapannya, kendaraan, perabotan. Rumah gubug berdinding bambu mungkin penghuninya dianggap berkekurangan, namun siapa sangka ternnyata kepemilikan lahannya sangat luas sebagai petani pemilik lahan. Di sebelahnya, tetangga dengan rumah berdinding bata terlihat megah dibanding rumah bambu. Namun hidupnya menanggung tak hanya keluarganya sendiri, lahan tak punya karena sebagai pekerja. Rumah megahnya adalah peninggalan orangtua.

Read the rest of this entry »

2015-11-22 16.16.28

Ramen @kay ramen

Suatu ketika saya sangat memerlukan sandal untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Setelah menabung berbulan- bulan saya memutuskan ke Galeria pada suatu siang (22/11/15). Tapi saya sadar, memilih satu sandal itu bisa menghabiskan waktu berjam- jam. Daripada kelaparan ditengah asyiknya memilih sandal, maka mapirlah di kedai ramen timur Galeria. Ini kali pertama saya mencoba ramen disitu. Agak uji coba sih, karena kadang meski dilabeli ramen ada tempat makan yang rasanya seperti mi rebus biasa. Tapi gapapa, toh saya lapar juga, jadi apapun akan tersa enak. Read the rest of this entry »

2015-11-16 12.14.20

Moro Sakeco Resto-c

Siang itu (16/11/2015) adalah hari berpamitan kepada rekan- rekan di kantor karena masa kerja saya sebagai pendamping swasembada pangan di BP3K Grabag, Magelang telah habis. Tiga rekan saya telah kembali ke rumah masing- masing, sedangkan saya masih menyaksikan demo masak di kantor. Dasar perempuan, saya tergoda dengan wajan granit anti lengket multifungsi dari menumis, memanggang, sampai bikin kue dan terang bulan yang ditawarkan sales. Pengen bawa pulang taruh dapur rumah, namun apa daya, ternyata mahal banget harganya, sama dengan biaya makan saya sebulan. Saya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga kelak bisa masak- masak pakai wajan canggih seperti ini.  Read the rest of this entry »

Adalah sebuah kisah dimana saya pernah berkeinginan menjadi seorang wirausaha. Saya merealisasikan keinginan dan idealisme saya sebagai mahasiswa pertanian itu dalam sebuah usaha agribisnis bersama teman- teman seperjuangan. Usaha ini dibentuk pada tahun 2013, bernama Agro Heksa Akselindo. Sederhana saja, Agro bermakna usaha di bidang pertanian, heksa karena didirikan oleh enam orang, dan akselindo karena pendirian dilakukan secara akselerasi. Read the rest of this entry »

2015-10-08 22.40.46

Sekotak Baklava

Sebagai pecinta makanan, saya penasaran sekali dengan makanan khas daerah tertentu. Kali ini, pas sekali salah satu penghuni Kejora, Nurul berkesempatan nggembel mengunjungi Turki. Saya jadi teringat dulu pas waktu SMA dan hari libur, seharian dirumah nonton TV pas acara kuliner timur tengah. Disitu pertama kali mengetahui ada makanan namanya baklava. Makanan manis ini mirip kue, tapi lebih mirip dengan pastri. Bagian dalam diisi dengan kacang- kacangan, kemudian disiram dengan sirup atau madu. Terbitlah keinginan untuk nyobain baklava ini. Akhirnya saya nitip baklava ke Nurul. Tapi ternyata pulangnya Nurul mengembalikan uang saya. Antara Nurul dengan senang hati memberikan oleh- oleh, atau dia nggak tega bilang kalau uang saya sebenarnya nggak cukup untuk beli baklava. Read the rest of this entry »

Tropical Sate :)

Tropical Sate 😀

Salah satu pelampiasan terhadap apapun, entah senang, sedih, berduka, bahagia, kecewa: memasak. Dan terharu, saat unfortunately masak keasinan kamu berkata “Aku suka masakan yang asin kok, seleraku emang yang agak asin”*

*** Read the rest of this entry »

Senja, pada suatu ketika.

Matahari senja 6.10.15 antara Magelang- Yogyakarta

Perjalanan ini bukan lagi tentang 60 kilometer yang membuat jemu. Perjalanan ini tempatku belajar bahasa yang alam berikan untuk menyampaikan pesan. Senja bukan lagi tentang lelah selepas kerja. Atau kecewa karena tak bisa menikmati secangkir teh di beranda sambil bercengkerama. Senja mengiringiku pulang sebagaimana ia mengantarkan merah saga kembali hingga ujung cakrawala. Kini aku tidak sendiri. Memperhatikan bagaimana alam berbahasa. Dan kami bercakap mesra. Senja ini mengajarkanku untuk untuk purna dengan sempurna.

*** Read the rest of this entry »

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,577 hits