Menulis Bebas

Posts Tagged ‘99

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa)

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Terbit: Juli 2011

Tebal: 392 halaman

Penulis buku 99 cahaya di Langit Eropa Ini adalah putri Amien Rais yang bernama Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga Almahendra. Rangga merupakan partner perjalanan  Hanum selama menjelajah Eropa. Hanum yang lahir dan menempuh pendidikan di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM ini berpetualang di Eropa dan tinggal di Austria untuk menemani sang suami. Rangga yang merupakan  lulusan cumlaude di ITB Bandung dan UGM (S2) ini sedang mengemban amanah beasiswa S3 dari Pemerintah Austria di WU Vienna. Kisah lahirnya buku ini adalah ketika Hanum menjatuhkan harddisk berisi foto- foto perjalanan mereka selama di Eropa. Sedangkan Rangga menanggapinya dengan “sebagian foto- foto itu tak terselamatkan lagi, tapi kita masih bisa menyelamakan kenangan perjalanan kita dalam sebuah buku….”. Maka lhirlah novel “99 Cahaya di Langit Eropa” ini.

Sepintas, buku ini terkesan seperti buku travelling biasa. Kesan pertama pembaca akan berubah ketika membaca prolog yang disampaikan penulis, bahwa perjalanan yang penulis lakukan tidak hanya sekedar menemukan tempat- tempat unik dengan biaya yang murah. Lebih dari itu, penulis memaknai perjalanannya dengan hakikat bahwa perjalanan tersebut harus dapat membawa pelakunya ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus menambah keimanan. Sampai disini pembaca diarahkan untuk menangkap makna isi buku tidak sesederhana  alur cerita perjalanan penulis, tetapi pembaca memerlukan analisis serta independensinya dalam menangkap informasi terutama yang berkaitan dengan sejarah.

Wina, Austria

Berawal dari sebuah coklat, penulis berkenalan dengan seorang muslim Turki yang menjadi tour guide selama berada di Wina. Keyword pada kunjungan penulis di kota ini adalah Kahlenberg, Danube, Restoran Der Wiener Deewan, Istana Schoenburnn, Wien Stadt Museum, dan Vienna Islamic Center. Kahlenberg adalah  sebuah pegunungan di Wina,  bagian kecil dari gugusan Alpen yang mengitari 7 negara Eropa. Dari sini pengunjung bisa menikmati keindahan Wina tanpa pembatas. Danube adalah sungai yang membelah Kota Wina. Di kota ini terdapat sebuah restoran Pakistan dengan konsep unik,  “ All you can eat. Pay as you wish “. Dengan konsep  ilmu ekonomi apapun, konsep makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya sulit untuk dianalisis bagaimana bisa konsep ini bisa bertahan. Namun pada faktanya restoran tersebut masih bertahan selama beberapa tahun. Istana Schoenbrunn merupakan istana tandingan Perancis, Versailles. Wien Stadt Museum atau Museum Wina , menyimpan sejarah tokoh- tokoh besar di masa lampau. Hal yang berkesan pagi penulis adalah pencitraan seorang pejuang Turki Utsmani yang di Austria dijuluki sebagai penjajah. Sedangkan Vienna Islamic Center merupakan masjid yang unik karena lokasinya terletak di tepi Sungai Danube dan ketika musim panas banyak orang yang berpakaian terbuka di sekitar masjid.

Paris, Perancis

Kali ini penulis dipandu oleh seorang mualaf Muslimah Prancis, Marion Latimer, lulusan Studi Islam Abad Pertengahan dari Universitas Sorbornne. Di paris ini terdapat Museum Louvre yang terkenal dengan Mona Lisa-nya. Namun demikian, kali ini penulis memberikan gambaran berbeda dari Louvre dengan mengubah dogma “Louvre is All About Mona Lisa”. Sedangkan hal mengejutkan lainnya adalah adanya lafal “laa illaha illallah”  pada tepian kerudung lukisan Bunda Maria.

Cordoba dan Granada, Spanyol

Cordoba merupakan titik tolak reinassance di Eropa, kota pertama yang dibangun imperium Islam. Penulis mengunjungi The Mosque Cathedral yang berarti masjid atau Mesquita dalam bahasa Spanyol, namun bangunan ini kini telah dialih fungsi menjadi gereja. Sedangkan Granada merupakan tempat dinasti Islam terakhir berada. Granada memiliki keindahan Istana Al Hambra. Setelah berakhirnya takhta Sultan Granada, kekuasaan beralih di tangan Isabella-Ferdinand. Kehidupan beragama Kristen, Yahudi dan Islam di Granada beralih penjadi pembabtisan massal dan agama tunggal Katolik.

Istanbul, Turki

Istanbul terkenal dengan Hagia Sophia-nya, gereja yang diubah menjadi masjid pasca penaklukan Konstantinopel. Turki sendiri masih memiliki beberapa bangunan bersejarah, seperti Istana Topkapi dan Hagia Irene. Istana Topkapi menggambarkan kesederhanaan kehidupan sultan-sultan Turki ditunjukkan dengan bangunan-bangunan asimetris yang tidak lazim dijumpai. Adapun adanya gereja yang masih bertahan seperti sebelum penaklukan adalah karena kebijakan perang Turki Utsmani yang melarang perusakan setelah penaklukan.

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa adalah gabungan dari novel, catatan perjalanan, dan sejarah yang menyatu dalam sebuah alur runtut. Pembaca dapat membaca buku ini dari sudut pandang novel dengan alur yang khas, sebagai catatan perjalanan, atau sebagai penuturan sejarah. Adapun beberapa bagian dari buku ini merupakan pengalaman penulis sendiri dalam melakukan perjalanan ke Eropa, sehingga dapat dikatakan masih terdapat subjektivitas penulis dalam buku ini. Namun demikian, penulis dengan bahasa yang rapi menuliskan nilai- nilai yang dapat menjadi pesan moral bagi pembaca berdasarkan pengalamannya selama di Eropa. Misal, penulis menyampaikan nilai- nilai Islam melalui tokoh Fatma yang menjunjung konsep damai dan teduh dalam syiar Islam. Pesan itu disampaikan dengan senantiasa menebar senyum, menguasai bahasa Inggris dan Jerman, serta jujur dalam berdagang.

Selain bahasa yang lugas dan alur yang mudah dipahami, penulis mengajak pembaca untuk berfikir. Pada bagian- bagian tertentu, penulis meyampaikan fakta sejarah masih terdapat pro dan kontra kebenarannya. Misalkan pada bagian dimana penulis mendapat informasi dari tour guide bahwa Napoleon diduga seorang muslim, disini disebutkan pendapat  pendukung namun juga disebutkan bantahan atas pernyataan itu. Penulis tidak menyediakan catatan kaki, atau referensi pendukung mengenai fragmen- fragmen sejarah yang ditampilkan. Sehingga untuk bagian ini pembaca perlu menganalisis dan mencari informasi dari sumber lain sebagai pembanding.

Poin penting  yang menjadi inti  menurut penulis resensi dalam buku ini adalah pesan yang disampaikan pada halaman 6-7, Hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Makna sebuah perjalanan harus lebih besar dari itu. Perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan.”

 

Suasana Seminar- Roadshow (dok.pribadi)

Suasana Seminar- Roadshow (dok.pribadi)

Rizki itu, telah diatur jauh bahkan sebelum kita ada. Mau bagaimanapun prosesnya, sesuatu yang akan menjadi milik kita, pasti akan mendatangi kita.

***

Ini adalah tentang sebuah tiket seminar  Beasiswa Erasmus Mundus dan Roadshow Film 99 Cahaya di Langit Eropa. Saya tidak merencanakan untuk datang di acara tersebut, mengingat di hari dan jam yang sama ada acara lain yang lebih prioritas. Dan saya pun tidak memperhatikan ketika ada lelang tiket untuk acara itu di grup WA.  Namun pada H-2, acara yang sudah saya agendakan itu di re-schedule. Fix, sedih itu adalah acara yang sudah diagendakan tiba- tiba tidak jadi. Namun yang lebih sedih lagi adalah kehabisan tiket untuk sebuah acara yang pengen banget didatangi.

Hari itu Jumat, 15 November 2013 ketika pagi hari teman asrama mengajak datang bareng seminar –tepat di hari pelaksanaan. Kyaaa… ya sudahlah, akan ada waktu untuk menghadiri seminar lain. Sampai siangnya habis kuliah saya merasa migraine,  hasil dari kuliah kehujanan sehari sebelumnya.  Maka Jumat siang saya memutuskan untuk tidur, sampai saya tau bahwa HP saya berdering. Hampir pukul 13.00, sebuah berita dari seorang kawan bahwa dia menghibahkan tiket seminar itu untuk saya. Setelah ber WA dengan dua orang kawan, sebut saja namanya Indri dan Chaye untuk datang bareng…  Jadilah, hari itu dibawah gerimis saya menuju JEC.

Saya membayangkan sebuah ruangan yang lapang seperti seminar- seminar pada umumnya, but in fact saya melihat lautan manusia sudah memenuhi ruang di JEC. Saya kira persentase orang yang datang dengan niat roadshow film a.k.a ketemu artis lebih banyak dibanding yang minat seminar Erasmus Mundus. Ini terlihat dari kondisi awal seminar dari EU Representative dan alumni Erasmus Mundus, peserta masih kalem- kalem dan duduk rapi. Sampai ketika sesi seminar selesai dan break untuk shalat ashar, peserta masih tertib. Diselingi demonstrasi aplikasi make-up dari Wardah, peserta masih tenang. Suasana berubah ketika negara api menyerang MC memanggil nama Abimana Aryasatya (pemeran Rangga). Sama seperti selanjutnya ketika pemilik novel Rangga Almahendra dan Hanum Rais menuju panggung. Disusul Dewi Sandra, Alex Abbad, Dian Pelangi dan lainnya…

Dewi Sandra dan Alex Abbad

Dewi Sandra dan Alex Abbad (dok.pribadi)

Ketika awal datang dan melihat tempat telah penuh, saya memang tidak tau malu berani untuk nyeseg-nyeseg (menerobos-pen) tempat bagian depan. Ini karena faktor mata saya minus dan kurang jelas kalau di belakang. Namun kemudian hal yang lebih brutal dilakukan banyak orang ketika talkshow telah dimulai. Space yang menjadi jalan telah dipenuhi bejibun orang dengan kamera ditangan. Area dengan garis batas yang tadinya dilarang untuk ditempati, sudah penuh dengan orang- orang yang bergerak mendekati panggung.

Tidak  apa- apa kalaupun orang- orang ngefans dengan artis, namun tidak ada jalan keluar karena pintu terhalang  dan menyulitkan saya dengan dua kawan di sebelah mau keluar. Tiba- tiba Chaye harus ke kampus saat itu juga.  Di saat seperti ini kita bisa melihat sejauh mana kreativitas seseorang. Menghadapi situasi demikian hal normal yang pertama dilakukan adalah bertanya pada panitia, apakah pintu terdekat bisa dibuka untuk keluar. Sedihnya panitia menjawab “tidak”. Jadi kami harus melewati pintu yang lebih jauh (dengan kapasitas sekitar 1200 orang, bisa dibayangkan jarak  bagian depan ruang dengan pintu keluar di bagian belakang). Akhirnya muncul ide yang jadi perdebatan untuk mencari solusi bagaimana bisa keluar dari ruangan.

Saya       : Lewat depan panggung aja (bisa ke shoot juga sangking dekatnya dengan para artis yang lagi ngomong)

Indri       : Malu…. Lewat sana aja (pintu masuk artis ke panggung- Indri lebih freak dari saya)

Saya     : Kamu kan bukan artis -_-

Bukan masalah bagaimana cara kami keluar dari ruangan yang menjadi topic pada acara itu, karena kami bisa keluar dengan tidak tau malu aman melewati orang- orang yang sedang duduk. Hari itu diinfokan seputar Erasmus Mundus. Pengenalan dan how to apply beasiswa Erasmus Mundus.  Erasmus Mundus sendiri berasal dari kata Erasmus, nama seorang ahli teologi dan humanis kebangsaan Belanda dengan nama lengkap Desiderius Erasmus Roterodamus yang katanya orang paling pandai pada abad itu (Abad 15). Sedangkan Mundus artinya dunia. Segala hal tentang aplikasi beasiswa ini ada di http://emundus.wordpress.com.

Bagaimana kata alumni tentang Erasmus Mundus? Kata mereka lulus dari EM memiliki keistimewaan Ijazahnya dikeluarkan oleh minimal dua negara, dua universitas dan ditandatangani dua rector. Ini baru dua, bahkan ada yang 7 negara, 7 universitas, dan ditandatangani 7 rektor. Bagi negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, hal yang dikhawatirkan ketika ke luar negeri adalah tentang ibadah, makanan halal, cara berpakaian, dan etika. Para alumni mengisahkan bahwa hal- hal semacam itu tidak perlu dirisaukan, masyarakat eropa memiliki toleransi dalam hal beragama, terlebih Islam semakin berkembang di Eropa. Tentang makanan, jika pun tidak tau mana yang halal- haram, asal kita declare bahwa kita muslim, teman disekitar  bakal memberi tahu mana yang  halal mana yang tidak.

Sesi talkshow tidak saya ikuti sampai selesai. Meski saya penyuka novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan penyuka film, saya tidak terlalu minat untuk berdesak- desakan, teriak- teriak histeris saat melihat artisnya. Saya sudah khatam novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan sudah membuat resensinya di http://www.wordsofnicesoul.net/2013/03/15/antara-sejarah-dan-fiksi/. Saatnya menunggu filmnya tayang, di Jogja sendiri film ini akan tayang pada 5 Desember mendatang. Siap- siap booking tiket!.

2013-11-15 15.36.41

Dian Pelangi (dok.pribadi)

Perwakilan UE (dok.pribadi)

Perwakilan UE (dok.pribadi)

Kelakuan Brutal Peserta (dok.pribadi)

Kelakuan Brutal Peserta (dok.pribadi)

Tags: , , ,

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 16 other followers

Categories

Blog Stats

  • 11,188 hits